Rabu, 20 Maret 2019

Imponderabilia



“…ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”Pramoedya A. Toer

            Beberapa hari lalu saya menemukan istilah yang cukup menarik untuk kita kembangkan menjadi sebuah obrolan sampai akhirnya mungkin akan menggerakkan kita menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya, lebih bermakna dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Insya Allah.

Teman, bagaimana isi hati kita saat melihat magma/lava yang keluar dari perut gunung berapi, atau seperti apa perasaan kita saat melihat deburan ombak yang sangat tinggi?  Tak terbayangkan! Kurang lebih seperti ini pula-lah arti dari Imponderabilia, merefleksikan sesuatu yang sangat mengagumkan, membuat semua orang tercengang kala melihatnya.

Barangkali ini pula yang membuat kita kagum dengan seseorang yang memiliki keterbatasan dalam hidupnya tetapi ia berbuat seperti orang yang tidak memiliki keterbatasan itu.

            Mungkin tidak jarang kita melihat seseorang yang mohon maaf kurang secara fisik tetapi rela menempuh jarak jauh, berlama-lama bahkan bersakit-sakit untuk hadir dalam majelis ilmu, duduk bersama orang-orang shalih, mendengarkan musyrif-ulama memberikan nasehatnya. Atau dengan seseorang yang sama tetapi tetap berusaha mencari pekerjaan yang halal walaupun lagi-lagi keterbatasan itu melekat ia tidak pernah mengeluhkan keadaan, tetap semangat meski mungkin ada yang merendahkan.

Tentunya bila menggunakan pola pikir secara normal, mereka yang memiliki keterbatasan rasanya tidak mungkin melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang yang dapat melakukan apa saja, tidak memiliki halangan. Tetapi mereka dapat menembus hal itu, anggapan bahwa ia yang kekurangan fisik tidak dapat melakukan banyak hal adalah sebuah kekeliruan.

Bila ditanya, kira-kira apa yang menggerakkan mereka untuk tidak menyerah, apa yang membuat mereka tetap memiliki semangat untuk melangkah maju?

Tujuan. Inilah bara yang tetap menyala dan bertambah kuat panasnya seiring waktu. Karena tujuanlah yang mampu menghilangkan lelah, menyerap segala keluh dan kesah. Apapun yang dilakukan dengan tujuan ia seperti dorongan roket yang membantu pesawat antariksa menembus atmosfer bumi.

Adalah hal yang sangat menarik dengan apa yang dikatakan oleh kakek Pramoedya bahwa, ada kekuatan dahsyat yang tak terduga pada seseorang yang tahu tujuan hidupnya, bahwa ketika manusia memiliki tujuan ia mempunyai banyak daya untuk mencapainya karena tiada yang sulit bila tujuan sudah digenggam, hanyalah masalah waktu dan kesungguhan yang akan mewujudkan hal itu.

Nah, teman, bagaimana dengan kita ini? Sudahkah memiliki tujuan dalam hidup, dan yang tidak kalah penting apakah tujuan itu menghantarkan kita pada rida-Nya? Bila belum segeralah buat tujuan dalam hidup, sebab hidup yang tidak mempunyai tujuan sejatinya tidak pernah hidup.

Bila seseorang yang memilki keterbatasan dapat melakukan hal yang mengagumkan karena memiliki tujuan, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama bahkan mungkin dapat lebih baik. Hidup yang mengalir seperti air tidak akan pernah membawa kita pada indahnya berada di atas puncak sebab air selalu mengalir ke bawah, jatuh, lalu tertinggal.

Demikiankah ingin hatimu?

Terlebih sebagai seorang muslim kita memiliki tujuan yang sangat istimewa, ingin masuk surga Firdaus, surga paling tinggi untuk tempat kembali. Bukankah tujuan ini sudah cukup untuk membuat kita lebih semangat dalam beramal, beribadah dan mengerjakan sesuatu sebab kita mempunyai tujuan yang mulia dan tak ternilai.

Bila mungkin hari ini kita lemas dan lelah menjalani kehidupan, ingat-ingatlah kembali bahwa untuk apa Allah menciptakan kita, apa tujuannya? Tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Maka mari jadikan setiap aktifitas kita lebih bermakna dan bernilai ibadah dengan selalu diniatkan karena-Nya. Seperti apapun tujuan hidup yang kita miliki pastikan ia membawa keridaan ilahi , karena ketika Ia sudah rida dengan seorang hamba, diberikanlah ‘kunci-kunci’ keberhasilan baik di dunia dan juga akhirat.

Imponderabilia adalah istilah yang mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu yang tak terbayangkan, menakjubkan, mengagumkan, mencengangkan, dan itu semua dapat dilakukan bila kita mempunyai tujuan.

Jadi, apa tujuan hidupmu?

Saudaramu,
Harun Tsaqif


Baca selengkapnya

Selasa, 19 Maret 2019

Jadi, siapa Teroris sebenarnya?



            Ba’da jumat, sekira pukul 13.15 wib, seperti biasanya, saya mulai menyiapkan materi untuk disiarkan melalui Udara, menyampaikan beberapa informasi sebelum nanti masuk kembali pada pembahasan pokok yang telah dikemas dengan rapi. Tidak ada yang aneh siang itu, berselancar di internet, melipir ke portal berita Nasional hingga saya melihat photo polisi berambut pirang sedang berkumpul dengan judul, Sekitar 30 orang Meninggal di Penembakan Masjid Christchurch¸ jantung kian berdebar kencang tak seirama diikuti ngernyitan dahi lalu kemudian bertanya, siapa pelaku jahat ini memberondong senjata kearah kaum muslim ketika mereka sedang melaksanakan ibadah. Kejam sekali. Saya bergumam, semoga Allah syahidkan para jamaah yang menjadi korban dan menghukum berat sang pelaku.

Siaran pun berlanjut, tersampaikan apa yang menjadi pokok dari materi, kemudian saya mengambil jeda untuk menyiapkan materi selanjutnya. Saya kembali membuka media sosial dan melihat sebuah video yang muncul di time line, penasaran, video apa ini? Kok bawa senjata, kok gambarnya seperti sedang ngevlog, berjalan ke arah masjid dan langsung menembaki jamaah sholat jumat yang terlihat olehnya.

Kaget bukan buatan, video ini menjelaskan dengan sangat terang apa yang terjadi di Masjid Chrischurch New Zealand yang baru saja saya baca dan amat tidak habis dipikir, pelaku menyiarkan secara live penembakannya. Biadab, mungkin ini kata yang pas untuknya. Marah, sedih, sesak, semua bercampur menjadi satu. Entah iblis mana yang merasukinya ketika itu. Saya berandai-andai kalau saja saya di sana, saya akan bersembunyi dibalik dinding menunggu kesempatan menikam ia dari belakang saat laras panjang itu telah kehabisan peluru. Andai saja. Tapi apa saya berani?

Definisi Teroris

            Ialah Brenton Terrant lelaki usia 28 tahun asal Australia yang menjadi tersangka penembakan jamaah masjid Al Noor dan masjid Linwood, seorang esktrimis sayap kanan yang menolak keberadaan kaum imigran khususnya muslim di New Zealand. Kebenciannya terhadap kaum muslim yang tidak berdasar membuat ia gelap mata dan melakukan tindakan yang melawan rasa kemanusiaan.

Dari berbagai sudut pandang saya rasa kita sepakat bahwa Brenton adalah seorang Teroris yang nyata. Ia telah sangat memenuhi defisini penyebutan seseorang sebagai teroris sebab terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence, yang tidak memandang agama atau pun keyakinan yang dimiliki oleh seseorang. Aksi yang ia lakukan adalah bentuk dari sebuah pemahaman yang sangat berbahaya yang dapat merusak kerukunan beragama. Kita mengutuk sangat keras apa yang dilakukan oleh Brenton Terrant dan berharap ia diberikan hukuman seberat-beratnya. Sangat berat. Mati.

Tetapi ketika kita telah mengetahui definisi teroris bahwa ia merupakan seorang penebar ketakutan, mengancam keselamatan, membunuh orang yang tidak bersalah apakah ‘dunia’ menganggap Brenton Terrant sebagai teroris? Sepertinya jawabannya adalah, tidak.

Kita bisa melihat hal ini dengan bagaimana media-media memberi judul berita, “Gun Man”, “Pria bersenjata”, “Pelaku Penembakan”, dan judul-judul pasif lainnya. Dunia tidak menganggap Brenton sebagai Teroris tetapi hanya sebagai laki-laki yang kebetulan memegang senjata lalu melakukan pembunuhan. Apa alasannya? Cukup mudah, karena Brenton bukanlah seorang muslim.

Keberpihakan Media

            Beberapa hari yang lalu, di daerah Sulawasi Utara tepatnya di wilayah Si Bolga seorang Ibu yang diduga memiliki pemahaman ISIS meledakkan diri dengan anaknya setelah sebelumnya sang suami ditangkap. Kabar ini pun santer terdengar dan diliput oleh banyak media nasional. Tidak ada korban jiwa atas kejadian ini melainkan ratusan warga mengungsi. Media pun berlomba-lomba memberikan judul yang sangat menarik dibumbui kalimat aktif, Teroris di Si Bolga Meledakkan diri Bersama anaknya, Istri Terduga Teroris sangat percaya degan Ideologi ISIS, dll.

            Kita sangat mempercayai apa yang dilakukan oleh pelaku di wilayah si bolga adalah kesalahan, terlebih melibatkan seorang anak dalam aksinya jelas melewati rasa kemanusiaan. Tetapi mengapa media tidak melabeli tersangka dengan sebutan yang sama seperti Brenton seperti missal, wanita pembawa bom, wanita meledakan diri bersama anak, dsb? Mereka lebih memilih menyelipkan kata teroris di dalamnya. Mari kita bandingkan dengan Brenton Terrant, keduanya sama-sama salah, sama-sama menakuti dan mengancam keselamatan, tetapi kenapa media melakukan penyebutan yang berbeda?

Terang sudah kiranya bahwa keberpihakan media sangat nyata adanya. Tidak bisa dinafikan atau dianggap sebagai kata kebetulan. Seolah-olah penyebutan terorisme hanya boleh dilakukan ketika pelakunya seorang muslim, bila bukan, sebut saja selainnya!

Perisai Pelindung

            Kejadian di hari jumat yang lalu menghentakkan hati kita sebagai seorang  muslim, mengetuk pikiran kita untuk terbuka dan bertanya, mengapa pembantaian terhadap kaum muslimin terus terjadi dan kita tidak dapat berbuat banyak? Padahal bila ingin dipaparkan, jumlah kaum muslimin sangat besar, negeri-negeri mereka juga memiliki pasukan-pasukan yang kuat. Namun lagi-lagi kita tidak dapat berbuat banyak selain mengutuk dan mengecam.

Kita terjebak oleh sekat-sekat nasionalisme tempat tinggal, batas negara, kita tidak memiliki institusi yang dapat menyatukan seluruh kaum muslim di dunia, kita telah kehilangan perisai pelidung yang membawa kehormatan, keseganan musuh-musuh dan menghilangkan kedzaliman kaum kafir yakni Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

            Dahulu, di masa Kekhilafahan Turki Utsmani pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II, Perancis mencoba membuat suatu acara yang menyulut kemarahan kaum muslim, mereka membuat drama teater, Muhammad dan kefanatikan yang disadur dari Voltaire, seorang pemikir eropa yang menghina Rasul. Hal ini membuat sang khalifah geram lalu mengirim surat dan meminta untuk dihentikan. Tetapi alih-alih membatalkan, sekumpulan orang teater tersebut mengubah tempat acara di Inggris. Mendengar ia akan mengadakannya kembali di lain tempat setelah dilarang, Khalifah pun mengirim surat kembali yang isinya kurang lebih Hentikan acara tersebut atau aku katakan kepada seluruh kaum muslimin untuk mempersiapkan Jihad Akbar. Acara tersebut pun akhirnya dihentikan.

Sebagaimana dahulu pada masa kejayaan umat islam, institusi Khilafah berhasil menjaga kerhormatan kaum muslimin, membuat ia ditakuti dan disegani. Keimanan menyatukan mereka pada panji laa ilaha illallahu muhamdurasulullah tidak peduli dari mana ia berasal.

Inilah bukti kehebatan Islam, ketika diterapkan oleh Negara. Tak heran jika Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:

Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar,  agama adalah pondasinya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki pondasi maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.

Hal ini jualah langkah yang harus kita ambil untuk mengembalikan kewibawaan umat islam, agar tidak lagi terjadi pembantaian dan penindasan kepada kaum muslimin yang selama ini terus terjadi.


Saudaramu,
Harun Tsaqif
Baca selengkapnya

Minggu, 10 Maret 2019

Zainudin, Hayati dan Harapan yang Pupus



            Sebenarnya saya sudah ada niat beberapa waktu lalu untuk menuliskan ini, tapi rasa-rasanya waktu belum menyempatkan tempatnya untuk menceritakan apa yang saya rasakan setelah membaca novel maha karya dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini diberi judul, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, sebuah kisah klasik yang ditulis dan belatarbelakang pada tahun 1930 di Negeri Minangkabau. 

Perasaan saya setelah membaca buku ini bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena ada seseorang yang telah menuliskan cerita seapik ini, sedih karena beliau telah wafat tiga puluh delapan tahun yang lalu.

Jujur, saya lebih menyukai untuk menyimpan apa yang saya rasakan setelah membaca buku terlebih bergenre fiksi, tetapi buku ini berhasil ‘memaksa’ saya untuk menuliskannya, insya Allah mudah-mudahan ada manfaat yang bisa kita dapat didalamnya.

Terusir

Beberapa tahun lalu mungkin kita sempat mendengar kalimat guyon “Hayati lelah bang!”, “Iya bang Zainudin,” dan mungkin ada kalimat lainnya yang saya tidak terlalu ngeh atau hafal kalau sebenarnya ia adalah plesetan dari kisah yang akhirnya difilmkan tersebut. Di novel ini pemeran utama adalah seorang pemuda yang lahir di Makassar dan mengalir darah Minang dari Ayahnya.
Dalam adat Minangkabau seorang anak yang terlahir dari Rahim ibu non-Minang, anak tersebut tidak memiliki suku baik dari pihak Ayah atau Ibu dan tidak juga berhak atas gelar sako dan pusako hal ini disebabkan masyarakat minang meletakkan garis keturunan pada Ibu (matrilineal) bukan pada Ayah (Patrilineal).

Hal inilah yang dialami oleh Zainudin didalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Ayahnya telahir sebagai minang  sedangkan sang istri asli Makassar sehingga ketika ia memutuskan pergi ketempat lahir sang Ayah untuk mengecap bagaimana rasanya memiliki keluarga ia justru merasa tidak dianggap sebagai orang asli minang, tidak diperlakukan sebagai saudara dekat dan dijauhi dalam pergaulan muda-mudi Minangkabau pada saat itu. Ia seakan terusir dinegeri tempat kelahiran Ayahnya sendiri.

Menumbuhkan Semangat

Zainudin merasa sedih dan putus asa, di negeri Makassar ia juga kerapkali merasa demikian sebab ada yang mengatakan “Kau ini orang minang Zainudin, bukan orang makassar,” dan ketika tiba di tanah Minang ia dianggap orang Makassar. Ah, agaknya malang sekali nasib Abang Zainudin ni. Tetapi tokoh utama yang dituliskan oleh Buya Hamka ini adalah orang yang berbudi luhur, baik, pelajar agama, santun, sehingga penduduk minang di tempat ia tinggal juga baik kepadanya. Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Hayati, gadis desa yang digambarkan cantik jelita nan baik budi agama, lukisan alam, lambaian gunung berapi. Bak bunga layu tersinari matahari begitulah Zainudin bertemu hayati. Hatinya kembali mekar, semangatnya tumbuh setelah sekian lama lesu.

Kini Zainduin telah menemukan alasannya untuk bertahan, untuk tetap hidup, Hayati. Perempuan yang telah menyirami hatinya dengan harapan cinta karena setelah perbincangan mengalir melalui surat, Hayati pun menyambut cintanya.


Berkhianat?

Demikianlah, untaian kata yang mereka lakukan untuk saling mengatakan cinta tertuang didalam surat-surat yang mereka buat. Sangat sederhana, tentang kepeduliaan, rasa iba dan empati yang bermuara pada kasih sayang. Terkadang saya berpikir bahwa begitu indah kiranya ketika orang jatuh cinta pada masa dahulu saling menjaga, selalu melihat batasan-batasan agama. Karena ketika cinta sudah datang tak patut rasanya dipermainkan atau pun hanya sekedar pelampiasan.

Tibalah waktu dimana Zainudin akhirnya harus pindah tempat belajar dan berteduh, ia mendapat nasehat –bila tidak ingin disebut sebagai kata pengusiran—untuk menjauhi Hayati, perempuan basuku, beradat dan berlembaga. Apalagi memang sang Paman tidak setuju bila kemenakannya harus menikah dengan seorang laki-laki yang tidak tentu asal, tak beradat serta tak beruang.

Alangkah berat langkah kakinya untuk melangkah meninggalkan mentari yang telah memberi harapan. Namun wanita yang telah bertukar surat dan menumpahkan perasaan kedalamnya itu berpesan bahwa ia akan tetap setia menunggu kedatangan laki-laki yang dicintai itu, akan tetap suci hingga Zainudin kembali. Tetapi rupanya takdir tidak berpihak pada Zainudin, selang beberapa minggu ia dilamar oleh Aziz, kakak sahabat baik Hayati, Khadijah. Kaya, beradat, dan juga berlembaga ninik-mamak Hayati pun terpana. 

Di saat yang sama Zainudin pun mengungkapkan lamarannya kepada Paman gadis yang dicintainya itu dengan bermodal tiga ribu rupiah, dan tentu saja cinta yang begitu besar, tulus, dan sungguh-sungguh.

Duh, teman, jadi agak panjang tulisan ini. Baiklah, kita akan mempercepatnya.

Hayati pun menerima pinangan dari Aziz setelah dirayu –bila tidak ingin dikatakan dipaksa paman—oleh ninik-mamak setelah bermusyawarah. Zainudin ditolak.

Pupus sudah pengharapan, redup pula mentari yang telah menyinari hidup Zainudin. Ia pun meminta penjelasan kepada Hayati, bagaimana tentang “kita” akan seperti apa nasib cinta yang sedang dirawatnya ini yang semakin hari semakin tumbuh dengan indah. Ia pun segera mendapat jawaban dari Hayati, kekasih yang amat dicintainya.

Bagai petir menyambar pohon kemudian remuk batang-batangnya, begitu kiranya hati Zainudin mendapat jawaban Hayati bahwa ia harus mencari wanita lain, Hayati mengatakan tidak bisa hidup bersama bila tidak meiliki apa-apa, pernikahan ini adalah pilihan hati yang telah diputuskan matang-matang.

Bangkit

Pupus sudah harapan. Mentari itu telah benar-benar pergi, dunianya kini begitu gelap. Zainudin terkulai lemas tak berdaya memikirkan nasibnya. Baimanakah kiranya menggantikan matahari bila ia tercipta hanya satu. Tidak, tidak mungkin bisa Zainudin mencari pengganti Hayati gadis yang amat dicintainya. 

Begitu menderita pemuda ini hingga harus menahan sakit yang sangat dalam berbulan-bulan. Makan tak mau minum pun enggan. Sakit. Ah, harus seperti apa saya memberikan kata-kata kepada pemuda yang dalam kisahnya begitu terluka karena cinta. Ia mempunyai niat yang suci tetapi… mungkin belum saatnya ia merengkuh apa yang menjadi kecintaannya.

Hingga akhirnya ia pun memilih untuk bangkit kembali, menderita karena wanita yang mungkin telah berkhianat itu bukanlah pilihan baik. Untuk apa menangisi wanita yang mungkin sedang bahagia dengan lelaki pilihannya. Untuk apa? Bukankah hidup akan terus berlanjut.

Mawar tak setangkai, kumbang tak seekor.

Gula, Semut dan Hikmah

Teman, mari kita persingkat. Zainudin kemudian menjadi penulis ternama, disegani, terhomat, dan tentu saja kaya raya, tapi itu tidak melupakan siapa jati dirinya, pemuda yang berbudi luhur, santun dan baik hati. Wanita cantik mana yang tidak akan terpikat dengan seseorang yang mahsyur? Ia seperti gula yang amat disukai semut.

Ok, skip. Cerita berakhir dengan tenggelamnya kapal Van der Wijck bersama Hayati dan disusul kemudian oleh Zainudin, seorang yang juga amat dicintainya. Kamu harus baca bukunya untuk mengetahui lebih detail dari apa yang kita ceritakan ini.

Ah… kisah cinta yang mengharukan. Karya sastra yang serat dengan pelajaran dan budaya, telebih saya dapat banyak mengetahui budaya minang. Maklum, saya adalah lelaki seperti Zainudin, Ibu saya bukan orang minang tetapi sangat tertarik dengan Budaya kampung Ayah yang telah cukup banyak melahirkan pejuang kemerdekaan. Dan yang saya sukai adalah penulis buku ini, Buya Hamka. Sastrawan tapi juga Ulama, Ulama, tapi juga penyair.

Kisah Zainudin dan Hayati sedikit banyak mungkin memiliki persamaan dengan kisah kita, hm, 
maksudnya kisah muda-mudi zaman sekarang. Terpuruk sebab cinta namun tidak segera bangkit. Ia lebih memilih tenggelam bersama kenangan yang tidak akan pernah kembali, membenamkan kepala sangat dalam pada rasa kecewa, kepada takdir yang mungkin saja tidak berpihak. Hanyut dengan harapan yang telah pupus dan akhirnya menjadi orang yang pesakitan.

Teman, untuk apa sedih berlama-lama?

Untuk apa?

Bukankah cukup banyak orang-orang yang kalah dalam percintaan namun menjadi pemimpin, penyair, pejuang, penulis, pengusaha yang sukses dan menjadi lebih baik? Kita boleh kecewa, boleh sakit, tetapi jangan biarkan kesedihan itu terus menetap dan menjadikanmu orang yang hilang. Apalagi, mohon maaf, bila mungkin cinta yang kita tangisi itu tak lebih lebih hanya sekedar nafsu, ya, kita mulai menjalani cinta dengan melanggar perintah Allah.

Untuk apa?

Perhatikanlah sebutir gula mengapa ia digemari semut, mengapa semut mengetahui dimana saja gula itu berada. Alangkah baiknya kita memperbaiki diri, meluruskan niat dan menguatkan tekad untuk lebih baik dari sebelumnya. Baguskan diri, kuatkan perjuangan, perdalam ilmu, capailah kesuksesan dan keridhaan Allah niscaya jodoh yang baik akan datang padamu.

Ikhlas memang tidak mudah, tetapi yakin dengan keputusan Allah adalah sebuah pilihan yang sangat indah. Dan lagi, ketika kelak dipertemukan oleh seseorang yang pada akhirnya kita jatuh hati, perjuangkanlah, sunguh-sungguh, tidak main-main dan tidak boleh melanggar batasan di dalam islam seperti pacaran. Sebab bila benar cinta sejati yang kita cari, kita tidak akan memulainya dengan langkah penakut lagi pengecut karena lelaki seperti itu tidak masuk kriteria  yang ‘Hayati’ cari, bang!

Semoga Allah merahmati Buya Hamka.


Saudaramu,
Harun Tsaqif

Baca selengkapnya

Sabtu, 09 Maret 2019

Hati - Hati Dosa Investasi



            Menjadi seseorang yang di idolakan, terkenal, memiliki banyak pengikut di social media bagi sebagian orang mungkin adalah impian yang tidak boleh dilewatkan. Dengan begitu ia akan mendapatkan keseganan, rasa hormat, dan mungkin kemewahan. Hanya tinggal posting atau upload sesuatu yang membuat pengikut suka dan senang atau mungkin ingin anti mainstream lalu menshare sedikit kekonyolan yang jenaka. Kalau beruntung pengikut akan berdatangan. Rasanya mudah bukan?

Tetapi ketika kita beranggapan setiap pengikut di akun media sosial hanya sekedar angka atau tidak lebih dari sekumpulan orang dunia maya yang tak nyata sepertinya kita harus mengubah sudut pandang ini sebab netizen, begitu orang banyak menyebutnya, adalah akun-akun unik yang dikendalikan manusia itu sendiri. Apa yang kita posting, upload, share di social media adalah seperti menaruh investasi yang terus berkembang seiring pertumbuhan pengikut. Namun yang perlu digaris bawahi investasi ini tidak hanya memberikan ganjaran di dunia melainkan juga di akhirat kelak.

Saat apa yang kita posting adalah hal positif dan bermanfaat maka hal ini adalah investasi kebaikan yang menghasilkan pahala dan akan terus mengalir apabila seseorang yang merasakan manfaatnya terus mengamalkannya. Bisa dikatakan ini merupakan pahala investasi. Begitupun sebaliknya ada dosa investasi, ketika apa yang di share merupakan hal yang tidak baik, melenakan, dan mengajak pada hal yang tidak disukai Allah lalu pengikut dari akun tersebut mengikutinya ia akan mendapat dosa meskipun ia tidak mengerjakannya atau pun telah meninggalkan dunia.

Orang pertama yang melakukan kebaikan akan mendapatkan kemuliaan karena menjadi inspirasi bagi setiap orang dan seseorang yang pertama-tama melakukan keburukan akan mendapatkan kehinaan sebab telah menjadi contoh atas keburukan yang terjadi selanjutnya.

Dalam mula-mula nabi Adam ‘alaihisalam turun kedunia untuk memakmurkan bumi bersama sang istri, lahirlah dua orang anak laki-laki dan perempuan mereka lahir sepasang dan sepasang. Kemudian Allah hendak memerintahkan nabi Adam ‘alaihisalam untuk menikahkan mereka secara silang. Mendengar hal ini satu laki-laki bernama Qabil tidak suka bila saudari perempuannya harus menikah dengan Habil sebab menurutnya dia lebih pantas.  Singkatnya di akhir kisah Qabil membunuh Habil lantaran dengki Habil berjodoh dengan saudarinya. Dan jadilah Qabil orang pertama yang menumpahkan darah pertamakali di dunia.

“Tidak satupun jiwa yang terbunuh secara zalim,” ucap Rasulullah dalam hadist riwayat bukhari, “melainkan putra Adam yang pertama ikut menanggung (dosa pertumpahan) darah itu karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.

Dari sini kita dapat mengatakan bahwa Qabil telah melakukan dosa investasi dengan menjadi orang pertama yang melakukan pertumpahan darah. Sebab setiap anak manusia yang melakukan pembunuhan Qabil mendapatkan bagian dosanya. Agaknya sama seperti kita memposting, ketika ia berisi sesuatu yang tidak baik maka keburukan itu akan terus mengalir kepada orang pertama yang menguploadnya ketika ia terus di ikuti. Itulah kiranya yang menyebabkan kita mesti berhati-hati. Apalagi social media saat ini memiliki dampak yang tidak bisa dikatakan kecil dalam merubah prilaku manusia.

Setiap pengikut yang mengikuti akun kita adalah amanah, tanggung jawab, postingan yang diberikan sedikit-banyak akan memberikan pengaruh padanya. Jadilah seseorang yang menginspirasi dan mengajak pada kebaikan karena kelak semua akan dipertanggung jawabkan.

Saudaramu,
Harun Tsaqif

Baca selengkapnya

Selasa, 02 Oktober 2018

Sudah Siap Jatuh Cinta?




                Barangkali hidup seseorang tanpa cinta, bagai mawar tanpa air, perlahan layu, lalu kemudian ia mati. Cinta adalah fitrah yang telah Allah berikan kepada setiap makhluknya melalui gharizah nau’ sebuah hasrat melestarikan keturunan, memenuhi kebetuhan biologis yang mesti di implementasikan bila tidak ingin resah atau gelisah yang tak berkesudahan. Maka mereka yang menolak fitrah ini sama seperti melawan titah ilahi yang pasti berujung kerusakan, dan untuk itulah mengapa mencintai adalah sebuah keharusan.

Agar saat mencintai tidak sakit hati, agar ketika jatuh cinta tidak berakhir kecewa kesiapan diri perlu ditata. Maksudnya, setiap orang perlu menyiapkan hal-hal saat jatuh cinta, ini dilakukan agar hati tidak mudah terluka dan tidak menambah dosa. Karena betapa banyak ia yang jatuh cinta tetapi  hanya mendapatkan duka dan terjebak pada aktifitas yang menyeretnya pada kehinaan semata.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan?

Pertama sekali adalah menyiapkan hati, karena saat jatuh cinta kita sedang berbicara tentang perasaan dan hatilah yang memiliki peran penting dalam hal ini. Saat jatuh cinta, pastikan hatimu merasakan ketenangan, cenderung untuk bersemangat dalam hal apapun utamanya ibadah. Sebab jatuh cinta sejatinya adalah hal positif. Bila dilangkah awal kita merasakan ini, silahkan lanjutkan kembali jatuh cintanya.

Kedua, akal. Informasi yang benar adalah saat dapat diterima oleh hati dan akal, pun soal jatuh cinta, perlu kiranya untuk dicerna oleh pikiran. Karena terlalu banyak menggunakan hati tanpa di imbangi dengan akal akhirnya pasti baper, mudah kecewa dan melanggar batas-batas syariat yang telah ditetapkan. Karena saat jatuh cinta semestinya seseorang itu tidak buta. Cerna oleh akal tentang perasaanmu, jika ia membawa pada aktifitas maksiat jatuh cintamu jelas salah, dan mesti berbalik arah.

Terakhir adalah doa, saat kita telah jatuh cinta mintalah kepada Allah agar senantiasa menjaga hati dan pikiran kita agar tidak melakukan hal-hal yang murkai Allah. Mohon perlindungan agar syaitan tidak mudah menunggangi perasaan.  Berdoa agar jatuh cinta ini diridhai oleh-Nya sehingga membawa kita pada kebaikan.

Jadi, sudah siap jatuh cinta?

Baca selengkapnya

Sabtu, 29 September 2018

Haoshoku No Haki dan Kaum Yang Terpilih



            Laki-laki bertubuh karet itu mengepalkan tangan sembari menarik kuat lengannya, ia sedang beraba-aba dengan jurus gomu-gomu no, red hawk, yang siap di hantamkan pada musuh. Seketika, penjahat dengan rambut ikal itu tersungkur dengan satu kali pukulan. Laki-laki tersebut adalah Monkey D. Luffy, kapten dari bajak laut Topi Jerami.

One Piece adalah cerita/komik yang saat ini masih berusaha dirampungkan oleh Eiichiro Oda, sang penulis yang memenangi Guinness World Record karena penjualan komiknya yang sungguh laris di pasaran. Sampai hari ini, saat tulisan ini di buat cerita One Piece sudah memasuki episode 919.

Akan tetapi ditulisan ini kita tidak sedang membahas manga dengan predikat internasional bestseller tersebut secara keseluruhan, saya bukan otaku, bukan juga maniac, hanya pembelajar dan sedang mengasah kembali tulisan yang agak panjang setelah beberapa waktu tidak update di blog. Hehe.

Ada hal menarik yang Eiichiro Oda sisipkan dalam ceritanya di One Piece, Haoshoku No Haki, bisa dikatakan ini adalah ilmu yang jarang dimiliki oleh setiap orang, hanya beberapa saja, dan itu pun bisa di hitung dengan jari. Kekuatan yang dapat melumpuhkan ratusan bahkan ribuan orang sekaligus tanpa menyentuhnya.

Secara umum, di dunia One Piece ada tiga jenis Haki seperti,
Kenbunshoku Haki, Busoshoku Haki dan Haoshoku Haki dan jenis terakhirlah yang paling kuat. Haoshoku no Haki juga di kaitkan dengan kekuatan raja, penakluk, karena yang memiliki Haki tersebut hanya orang-orang pilihan dan mereka yang terpilih dapat menguasai dunia. Tentu saja masih di dalam dunia One Piece.

Semua yang telah saya utarakan di atas hanya fiksi dan tidak lebih dari khayalan seseorang saja. Bagaimana kalau di dunia nyata ternyata ada yang memiliki kekuatan lebih hebat dari apa yang dituliskan Eiichiro Oda, orang-orang terpilih yang akan memimpin dunia, ditulis oleh pencipta langit beserta segala isinya. Mereka adalah seorang muslim. 


Ketika satu orang muslim menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangannya, taat dan tidak bermaksiat maka ketahuilah ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menaklukan dunia. Ini hanya satu, bagaimana jika seluruh kaum muslim? Tentu bukan hal yang sulit untuk menjadikan dunia berada digenggamannya.

Kaum muslim adalah kaum yang terpilih untuk menjadi seorang penguasa/Khalifah di bumi mengelola dengan baik dan mengemban amanah dengan terjaga. Dengan kekuatannya yakni, doa yang di akumulasikan dengan ikhtiar penuh taat maka seluruh penjuru negeri akan dibawa pada kesejahteraan dan keadilan. Ah, Haoshoku No Haki tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh seorang muslim.

Oia, Haoshoku Haki dalam dunia One Piece, meski seseorang telah terpilih untuk memilikinya, ia tidak akan dapat menguasai Haki tersebut sebelum melatih dirinya dengan latihan yang cukup keras. Persis saat time skip yang dibuat oleh Oda dalam alur ceritanya, Luffy melatih dirinya untuk menguasai Haki tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan mereka yang terpilih/kaum muslim dan dalam hal ini adalah kita khususnya. Ya, kita tidak akan pernah bisa menaklukan dunia beserta musuh-musuh kaum muslimin bila tidak belajar islam, belajar untuk taat dan belajar untuk selalu dekat pada Allah. Kalau melihat lagi cerita yang di tulis Eiichiro Oda, Luffy bersedia menunda melanjutkan petualangannya selama dua tahun untuk mengembangkan ilmunya, karena ia sadar ia belum mampu mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat darinya. Lalu bagaimana mana dengan kita di dunia nyata. Sudahkah
menyiapkan waktu untuk menuntut ilmu dan belajar kembali?

Kita memang kaum yang terpilih, akan tetapi bila tidak belajar islam, tidak belajar untuk taat dan dekat dengan Allah kita akan di libas oleh musuh. Untuk itulah, mari kita luangkan waktu untuk terus belajar islam agar kaum muslimin dapat kembali menggenggam dunia dengan islam. Bila sudah dekat dengan Allah, ratusan, ribuan bahkan jutaan para pembenci islam dapat dikalahkan dengan mudah seperti menggunakan Haoshoku Haki.

Saudaramu,
@haruntsaqif


Baca selengkapnya

Jumat, 10 November 2017

Fenomena Kids Jaman Naw


Sempat booming dan sepertinya saat ini masih, tentang fenomena Kids Jaman Naw yang mungkin tak habis kita pikir bagaimana ia bisa ‘senarsis’ itu memperlihatkan kekeliruan atau perbuatan yang semestinya tidak boleh dilakukan. Hari ini kita dapat melihat generasi yang sangat besar kreativitas namun sayangnya melewati batas; baik norma ataupun islam. Jika menengok kawula muda hari ini khususnya remaja mudah bagi kita menemukan mereka berjalan berduaan, melakukan petting ala prancis, hug like inggris.

Kadang akal sehat kita bertanya, kok bisa ya mereka melakukan hal semacam itu, padahal di jaman dulu kita tidak berani, bahkan orang yang melihat kita berbuat seperti itu bisa di tempeleng.

            Itu hanya sekecil fakta yang beredar banyak di tengah pengelihatan kita. Tentu saja ini merupakan degradasi moral cukup parah. Bisa di bayangkan bagaimana nasib sebuah negara bila generasi penerusnya justru terjatuh dalam pusaran kebebasan? Ambruk.

Ini semua tentu ada yang salah. Kira-kira apa penyebabnya? Banyak. Dari tontonan yang tidak mendidik, pergaulan yang kurang pengawasan hingga sistem yang di terapkan. Kalau mau jujur, sinetron saat ini kurang mengedukasi bahkan cendrung tidak bermutu, dan sebagian besar remaja kita hari ini mengambil banyak contoh dari apa yang mereka tonton. Efeknya, generasi saat ini tidak semua cerdas. Belum lagi pergaulan bebas yang sedikit banyaknya mempengaruhi sikap dan tumbuh- kembang remaja.

            Bicara soal pergaulan, saya yakin para orangtua amat cemas dengan hal ini. Pergaulan Kids Jaman Naw semakin ngeri, beberapa waktu lalu saja ada anak SMP yang diberitakan sedang asik bercumbu bersama pasangannya. Duh, mau jadi apa bangsa ini.

            Terakhir sistem, jika kita ingin sedikit lebih berfikir tentang fenomena Kidz Jaman Naw ini semua sebab sistem sekuler yang di terapkan. Sistem yang memisahkan kehidupan dan agama. Jika boleh bertanya, seberapa banyak pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah? Sangat sedikit, kecuali sekolah berbasis islam. Padahal Pendidikan islam bagi seorang remaja sangat penting untuk membentengi mereka dari fenomena ini, karena sistem mengacu pada pola, unsur dan dasar. Jadi jika sistemnya baik, maka semuanya akan menghasilkan kebaikan. Beda dengan sistem sekuler yang outputnya adalah kebebasan, alhasil terciptalah Kids Jaman Naw yang makin memprihatinkan.

Jadi yuk, kembali pada sistem islam. 

Baca selengkapnya