Selasa, 02 Oktober 2018

Sudah Siap Jatuh Cinta?




                Barangkali hidup seseorang tanpa cinta, bagai mawar tanpa air, perlahan layu, lalu kemudian ia mati. Cinta adalah fitrah yang telah Allah berikan kepada setiap makhluknya melalui gharizah nau’ sebuah hasrat melestarikan keturunan, memenuhi kebetuhan biologis yang mesti di implementasikan bila tidak ingin resah atau gelisah yang tak berkesudahan. Maka mereka yang menolak fitrah ini sama seperti melawan titah ilahi yang pasti berujung kerusakan, dan untuk itulah mengapa mencintai adalah sebuah keharusan.

Agar saat mencintai tidak sakit hati, agar ketika jatuh cinta tidak berakhir kecewa kesiapan diri perlu ditata. Maksudnya, setiap orang perlu menyiapkan hal-hal saat jatuh cinta, ini dilakukan agar hati tidak mudah terluka dan tidak menambah dosa. Karena betapa banyak ia yang jatuh cinta tetapi  hanya mendapatkan duka dan terjebak pada aktifitas yang menyeretnya pada kehinaan semata.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan?

Pertama sekali adalah menyiapkan hati, karena saat jatuh cinta kita sedang berbicara tentang perasaan dan hatilah yang memiliki peran penting dalam hal ini. Saat jatuh cinta, pastikan hatimu merasakan ketenangan, cenderung untuk bersemangat dalam hal apapun utamanya ibadah. Sebab jatuh cinta sejatinya adalah hal positif. Bila dilangkah awal kita merasakan ini, silahkan lanjutkan kembali jatuh cintanya.

Kedua, akal. Informasi yang benar adalah saat dapat diterima oleh hati dan akal, pun soal jatuh cinta, perlu kiranya untuk dicerna oleh pikiran. Karena terlalu banyak menggunakan hati tanpa di imbangi dengan akal akhirnya pasti baper, mudah kecewa dan melanggar batas-batas syariat yang telah ditetapkan. Karena saat jatuh cinta semestinya seseorang itu tidak buta. Cerna oleh akal tentang perasaanmu, jika ia membawa pada aktifitas maksiat jatuh cintamu jelas salah, dan mesti berbalik arah.

Terakhir adalah doa, saat kita telah jatuh cinta mintalah kepada Allah agar senantiasa menjaga hati dan pikiran kita agar tidak melakukan hal-hal yang murkai Allah. Mohon perlindungan agar syaitan tidak mudah menunggangi perasaan.  Berdoa agar jatuh cinta ini diridhai oleh-Nya sehingga membawa kita pada kebaikan.

Jadi, sudah siap jatuh cinta?

Baca selengkapnya

Sabtu, 29 September 2018

Haoshoku No Haki dan Kaum Yang Terpilih



            Laki-laki bertubuh karet itu mengepalkan tangan sembari menarik kuat lengannya, ia sedang beraba-aba dengan jurus gomu-gomu no, red hawk, yang siap di hantamkan pada musuh. Seketika, penjahat dengan rambut ikal itu tersungkur dengan satu kali pukulan. Laki-laki tersebut adalah Monkey D. Luffy, kapten dari bajak laut Topi Jerami.

One Piece adalah cerita/komik yang saat ini masih berusaha dirampungkan oleh Eiichiro Oda, sang penulis yang memenangi Guinness World Record karena penjualan komiknya yang sungguh laris di pasaran. Sampai hari ini, saat tulisan ini di buat cerita One Piece sudah memasuki episode 919.

Akan tetapi ditulisan ini kita tidak sedang membahas manga dengan predikat internasional bestseller tersebut secara keseluruhan, saya bukan otaku, bukan juga maniac, hanya pembelajar dan sedang mengasah kembali tulisan yang agak panjang setelah beberapa waktu tidak update di blog. Hehe.

Ada hal menarik yang Eiichiro Oda sisipkan dalam ceritanya di One Piece, Haoshoku No Haki, bisa dikatakan ini adalah ilmu yang jarang dimiliki oleh setiap orang, hanya beberapa saja, dan itu pun bisa di hitung dengan jari. Kekuatan yang dapat melumpuhkan ratusan bahkan ribuan orang sekaligus tanpa menyentuhnya.

Secara umum, di dunia One Piece ada tiga jenis Haki seperti,
Kenbunshoku Haki, Busoshoku Haki dan Haoshoku Haki dan jenis terakhirlah yang paling kuat. Haoshoku no Haki juga di kaitkan dengan kekuatan raja, penakluk, karena yang memiliki Haki tersebut hanya orang-orang pilihan dan mereka yang terpilih dapat menguasai dunia. Tentu saja masih di dalam dunia One Piece.

Semua yang telah saya utarakan di atas hanya fiksi dan tidak lebih dari khayalan seseorang saja. Bagaimana kalau di dunia nyata ternyata ada yang memiliki kekuatan lebih hebat dari apa yang dituliskan Eiichiro Oda, orang-orang terpilih yang akan memimpin dunia, ditulis oleh pencipta langit beserta segala isinya. Mereka adalah seorang muslim. 


Ketika satu orang muslim menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangannya, taat dan tidak bermaksiat maka ketahuilah ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menaklukan dunia. Ini hanya satu, bagaimana jika seluruh kaum muslim? Tentu bukan hal yang sulit untuk menjadikan dunia berada digenggamannya.

Kaum muslim adalah kaum yang terpilih untuk menjadi seorang penguasa/Khalifah di bumi mengelola dengan baik dan mengemban amanah dengan terjaga. Dengan kekuatannya yakni, doa yang di akumulasikan dengan ikhtiar penuh taat maka seluruh penjuru negeri akan dibawa pada kesejahteraan dan keadilan. Ah, Haoshoku No Haki tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh seorang muslim.

Oia, Haoshoku Haki dalam dunia One Piece, meski seseorang telah terpilih untuk memilikinya, ia tidak akan dapat menguasai Haki tersebut sebelum melatih dirinya dengan latihan yang cukup keras. Persis saat time skip yang dibuat oleh Oda dalam alur ceritanya, Luffy melatih dirinya untuk menguasai Haki tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan mereka yang terpilih/kaum muslim dan dalam hal ini adalah kita khususnya. Ya, kita tidak akan pernah bisa menaklukan dunia beserta musuh-musuh kaum muslimin bila tidak belajar islam, belajar untuk taat dan belajar untuk selalu dekat pada Allah. Kalau melihat lagi cerita yang di tulis Eiichiro Oda, Luffy bersedia menunda melanjutkan petualangannya selama dua tahun untuk mengembangkan ilmunya, karena ia sadar ia belum mampu mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat darinya. Lalu bagaimana mana dengan kita di dunia nyata. Sudahkah
menyiapkan waktu untuk menuntut ilmu dan belajar kembali?

Kita memang kaum yang terpilih, akan tetapi bila tidak belajar islam, tidak belajar untuk taat dan dekat dengan Allah kita akan di libas oleh musuh. Untuk itulah, mari kita luangkan waktu untuk terus belajar islam agar kaum muslimin dapat kembali menggenggam dunia dengan islam. Bila sudah dekat dengan Allah, ratusan, ribuan bahkan jutaan para pembenci islam dapat dikalahkan dengan mudah seperti menggunakan Haoshoku Haki.

Saudaramu,
@haruntsaqif


Baca selengkapnya

Jumat, 10 November 2017

Fenomena Kids Jaman Naw


Sempat booming dan sepertinya saat ini masih, tentang fenomena Kids Jaman Naw yang mungkin tak habis kita pikir bagaimana ia bisa ‘senarsis’ itu memperlihatkan kekeliruan atau perbuatan yang semestinya tidak boleh dilakukan. Hari ini kita dapat melihat generasi yang sangat besar kreativitas namun sayangnya melewati batas; baik norma ataupun islam. Jika menengok kawula muda hari ini khususnya remaja mudah bagi kita menemukan mereka berjalan berduaan, melakukan petting ala prancis, hug like inggris.

Kadang akal sehat kita bertanya, kok bisa ya mereka melakukan hal semacam itu, padahal di jaman dulu kita tidak berani, bahkan orang yang melihat kita berbuat seperti itu bisa di tempeleng.

            Itu hanya sekecil fakta yang beredar banyak di tengah pengelihatan kita. Tentu saja ini merupakan degradasi moral cukup parah. Bisa di bayangkan bagaimana nasib sebuah negara bila generasi penerusnya justru terjatuh dalam pusaran kebebasan? Ambruk.

Ini semua tentu ada yang salah. Kira-kira apa penyebabnya? Banyak. Dari tontonan yang tidak mendidik, pergaulan yang kurang pengawasan hingga sistem yang di terapkan. Kalau mau jujur, sinetron saat ini kurang mengedukasi bahkan cendrung tidak bermutu, dan sebagian besar remaja kita hari ini mengambil banyak contoh dari apa yang mereka tonton. Efeknya, generasi saat ini tidak semua cerdas. Belum lagi pergaulan bebas yang sedikit banyaknya mempengaruhi sikap dan tumbuh- kembang remaja.

            Bicara soal pergaulan, saya yakin para orangtua amat cemas dengan hal ini. Pergaulan Kids Jaman Naw semakin ngeri, beberapa waktu lalu saja ada anak SMP yang diberitakan sedang asik bercumbu bersama pasangannya. Duh, mau jadi apa bangsa ini.

            Terakhir sistem, jika kita ingin sedikit lebih berfikir tentang fenomena Kidz Jaman Naw ini semua sebab sistem sekuler yang di terapkan. Sistem yang memisahkan kehidupan dan agama. Jika boleh bertanya, seberapa banyak pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah? Sangat sedikit, kecuali sekolah berbasis islam. Padahal Pendidikan islam bagi seorang remaja sangat penting untuk membentengi mereka dari fenomena ini, karena sistem mengacu pada pola, unsur dan dasar. Jadi jika sistemnya baik, maka semuanya akan menghasilkan kebaikan. Beda dengan sistem sekuler yang outputnya adalah kebebasan, alhasil terciptalah Kids Jaman Naw yang makin memprihatinkan.

Jadi yuk, kembali pada sistem islam. 

Baca selengkapnya

Minggu, 22 Oktober 2017

Membaca dan Menulis dalam Memajukan Peradaban


Mungkin tidak berlebihan jika majunya sebuah bangsa dapat terlihat dari kegemaran mereka membaca dan menuangkan apa yang dibacanya dalam sebuah tulisan. Sebuah survei yang di lakukan oleh Most Littered Nation In the World tahun 2016 yang berbasis di Amerika Serikat memberikan penilaiannya terkait minat baca di berbagai negara termasuk Indonesia di dalamnya menunjukkan bahwa posisi Indonesia berada di peringkat 60 setelah Thailand dari 61 negara yang diadakan survei tersebut.

Pada faktanya inilah yang tengah terjadi di negeri ini, krisis minat membaca dan menulis, lebih lagi negara ini adalah mayoritas muslim. Jika kita berkaca pada sejarah, peradaban islam memuncaki dunia karena budaya membaca  dan menulis yang tidak pernah ditinggalkan. Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmuan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, optik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Sebut saja Ibnu Khaldun, cendikiawan muslim yang menulis buku mukaddimah setebal 1000 halaman dan kerapkali disebut sebagai Bapak Sosiologi, Ibnu Al Hatsami yang menemukan ilmu optik kamera, Al Khawarizmi pencipta angka nol dan metode Al jabar dan masih banyak lagi.

Penemu-penemu yang terlahir dari rahim umat islam adalah ia yang tidak meninggalkan tradisi membaca dan menulis. Pun sejarah mencatat ditengah kemajuan peradaban umat islam (the golden age) barat dengan ketertinggalannya (the dark age) mengekor pada umat islam. Hal yang tidak bisa kita pungkiri bahwa umat islam merupakan penyumbang terbesar bagi kemajuan zaman saat ini dan sekali lagi, hal ini di karenakan tidak ditinggalkannya budaya membaca dan menulis.

            Begitu dahsyatnya efek dari membaca serta menulis, ia mampu membawa negara menuju puncak peradaban, membuat hal yang tiada menjadi ada seperti negara Israel yang sejatinya dulu hanya angan kini mewujud menjadi negara di tangan Theodore Herlz akibat tulisannya Altneuland yang menginspirasi kaum Yahudi untuk mempunyai sebuah negara.

Bahkan Samuel Huntington yang menulis ‘disertasi’ doktoralnya tentang ”Benturan Peradaban”, antara peradaban Barat (Kristen, Yahudi dan sebagainya) dengan peradaban Dunia Timur (Islam) pada akhirnya menjadi rujukan Dunia Barat dalam menilai dan menyikapi kebangkitan dunia Islam (as-shahwah Islamiah). Huntington meyakini dan menulis angan-angannya bahwa setelah Amerika memenangkan Perang Dunia II, maka lawan mereka berikutnya yang akan dan harus dihadapi adalah ”umat Islam.” Efek besar dari tulisan (disertasi) Huntington tersebut kini menjadi aksi nyata eksistensi dunia barat yang dirasa oleh hampir semua umat Islam diseluruh bagian dunia. Hampir disemua lini dan segmentasi tatanan kehidupan negara-negara Islam berada dibawah cengkeraman Amerika-Barat.

            Begitulah tulisan merubah masyarakat dan dunia. Begitupula membaca membawa negara pada kebangkitan yang tidak terbendung. Sebagai masyarakat muslim kita harus kembali menghidupkan tradisi membaca dan menulis ditengah-tengah umat agar senantiasa mencerdaskan dan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk kembali memimpin dunia. Jika melihat ulama-ulama dahulu, mereka adalah penulis, ilmuan dan pemikir-pemikir islam yang tidak jarang dengan kebiasaan tersebut muncul-lah karya yang di jadikan rujukan oleh kaum muslim hingga saat ini; ada Imam Malik dengan Al Muwatho'nya ada Imam Syaf'i bersama Ar Risalahnya, ada Ibnu Hajar Al Asqalani dengan Fathul Bari-nya, ada Imam an Nawawi melekat Riyadhus Shalihinnya, dan masih banyak lagi karya-karya besar milik kaum muslim dalam membangun peradaban islam.

Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. 

Senada dengan Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang mengatakan, “aku lebih takut pada penulis daripada 1000 pasukan bersenjatakan lengkap.” Maka budaya membaca dan menulis tentunya sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa. Jika kita tidak mulai membiasakan membaca maka otak kita tidak akan pernah mendapatkan informasi atau ilmu baru. Pun jika kita tidak membiasakan menulis maka tulisan-tulisan hanya akan di penuhi oleh pemikiran yang merusak dan hal ini tentunya menjadi penghambat bagi majunya sebuah bangsa lebih lagi peradaban islam.


Baca selengkapnya

Sabtu, 21 Oktober 2017

Pendiri Zionis dan Impian yang Berdurasi


Mari mematok impian, tentukan kapan ia terwujud. Kali ini kita akan mengambil contoh dari Theodore Herlz tentang Impian yang berdurasi. Saat kita membaca sejarah terutama sejarah islam, dahulu sekali negeri palestina adalah tanah yang merdeka, bergabung bersama kekuatan besar, Khilafah Turki Utsmani, Daulah Khilafah yang menaungi negeri-negeri islam sebelum akhirnya runtuh pada tahun 1924.

Kita akan mundur beberapa tahun silam sebelum akhirnya inggris berhasil menguasai Palestina dan membuatnya tunduk tak berdaya. Theodore Herlz adalah aktor utama dibalik pendirian negara Israel Raya, ia merupakan seorang Jurnalis sekaligus ahli hukum yang membuat durasi impiannya menjadi nyata. Ia menargetkan bahwa sekiranya 50 tahun kedepan orang-orang Yahudi sudah memiliki negara tempat mereka menetap dan membesarkan anak. Hal ini dikarenakan kaum Yahudi kerap kali di aniaya dan di usir berbagai negara tempat mereka tinggal.

Pembantaian kaum Yahudi oleh kelompok Nazi misalnya, adalah tragedi yang menyimpan luka cukup dalam dan tak akan pernah terlupakan baik oleh sejarah ataupun kaum Yahudi sendiri. Melihat hal tersebut, inilah yang mungkin menjadi pemantik Herlz untuk menargetkan impiannya. Ya, etnis Yahudi harus memiliki Negara sendiri agar mereka tidak terkatung-katung ditengah pelarian.

Theodore Herlz.

Herlz, di dalam perjuangannya mewujudkan impian cukup gilanya itu tak jarang mendapatkan hinaan serta ledekan dari kaumnya sendiri, “Halah. Mau buat negara, hidup kita saja harus berlari jika tidak ingin mati.” Tapi ia sungguh tidak memedulikan hal itu. Ia tetap fokus pada impiannya. Mendirikan Negara Yahudi. Belakangan ia membuat konferensi untuk membahas hal ini dengan mendirikan gerakan Zionisme, maka tak jarang Theodore Herlz kerapkali disebut sebagai Bapak Zionis.

Herzl bukan hanya tokoh zionisme, melainkan juga seorang novelis. Lewat novel utopianya, Altneuland (Tanah Lama-Baru), yang diterbitkan pada tahun 1902, Herzl mengkhayalkan sebuah “Masyarakat Baru” di Palestina pada tahun 1923. Maka pada tahun 1948, Israel resmi berdiri di tanah Palestina. Semua merupakan rencana Allah yang tak bisa terelakan. Tentu saja kita bersedih hati atas pendudukan yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap tanah palestina, akan tetapi meski musuh, Herlz memberikan kita pelajaran untuk berani bermimpi, untuk bervisi besar, dan untuk mewujudkan itu semua butuh kerja keras.

Suatu saat di tahun 1898 ia pernah berkata “Hari ini kuproklamasikan Negara Yahudi raya di Palestina. Hari ini memang aku pantas ditertawakan. Tapi selambat-lambatnya 50 tahun lagi” ucap Herlz penuh semangat, “aku yakin bahwa mereka yang mengabdi untuk zionisme-lah yang akan tertawa.”

 Sejak saat itu ia telah menanamkan mimpi besarnya untuk membangun sebuah Negara adidaya. Dengan mimpinya itu, ia mulai melakukan segala hal yang licik dan mencoba melobi Inggris untuk merekayasa dan menskenariokan terbentuknya Negara Israel. Alhasil, ia berhasil  mewujudkan mimpinya.

Diangkatnya Theodore Herlz menjadi contoh dalam tulisan ini bukan untuk membesarkannya, melainkan untuk mengambil cara bagaimana ia berhasil mewujudkan mimpinya, yaitu dengan menentukan durasi kapan impian itu terwujud. Jika Herlz yang musuh islam, jauh dari Allah, licik saja berani bermimpi besar dan menargetkannya. Lalu mengapa kita yang Muslim, dekat dengan Allah bila taat, umat terbaik bila ikuti syariat, di jadikan Allah Khalifah fil Ardh tidak berani bermimpi besar?

Adalah hal yang aneh apabila kita tak berani bermimpi, sebab Rasulullah telah mengajarkan kita untuk senantiasa optimis. Tiada hal yang mustahil bagi Allah jika kita mau berusaha, meski orang-orang mentertawakan-menghina, biarlah ia menjadi bahan bakar untuk membuat lebih cepat mecapai impian yang telah kita buat.

“Ketika kamu diremehkan” tutur Kang Dewa, “fokuslah pada tiga hal; lakukan saja sesuatu yang benar, kerjakan hal yang besar dan biarkan hasilnya yang berbicara.”

Bermimpilah yang besar, lalu bangun untuk mewujudkannya. Tentukan target kapan tercapainya, niscaya malaikat-malaikat mengaminkan impian kita dan menghantarkannya pada Allah menjadi sebuah doa, hingga nanti Allah akan mengabulkan seiring dengan usaha yang kita lakukan. Semangat!
Baca selengkapnya

Selasa, 17 Oktober 2017

Ilusi Tayangan Mencerdaskan


Beberapa waktu lalu saya ikut Sekolah Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang di adakan Komisi Penyiaran Indonesia. Pembahasan yang dituturkan oleh pemateri tentang dunia pertelevisian dan radio membuka cakrawala berfikir kami; “ternyata semua tayangan baik di Radio ataupun Televisi memiliki regulasi/aturan sesuai undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Bukan hanya itu, tayangan-tayangan yang mengandung unsur kekerasan melebihi batas, praktik bulying dan juga pornografi akan diberikan sanksi berupa teguran tertulis sampai pemberhentian program.
Kami sempat diberikan kesempatan  untuk menganalisis dan menjatuhkan sanksi beberapa tayangan yang kedapatan mengandung unsur itu semua. Tentu saja ini hanya tes, sejauh mana kami memahami undang-undang tentang penyiaran.
Namun yang lebih menarik, meski Komisi Penyiaran Indonesia telah berupaya sedemikian rupa untuk menjaga tayangan agar tetap ramah anak dan keluarga, tetap saja masih ada tayangan yang ‘bandel’ dan perlahan memasukkan unsur-unsur yang sebenarnya tidak di perbolehkan. Alhasil, cukup banyak diantara generasi ini atau bahkan kita sendiri yang merefleksikan tontonan menjadi sebuah tuntunan. Pun, sayangnya, peran Komisi Penyiaran Indonesia dalam menjaga tayangan berada di pasca tayang atau setelah muncul di televisi baru bisa mengambil tindakan. Iya, seperti itulah aturan yang sudah berlaku dan baku.
Mewakili suara ibu-ibu dan tentu saja para Ayah yang peduli akan perkembangan dan pertumbuhan anak. Kami sempat berdiskusi banyak hal, termasuk membicarakan tentang tayangan suatu program atau sinetron yang tidak mendidik;  bisakah diberhentikan saja? Tentu saja tidak, sebab sejatinya frekuensi itu milik publik, maka masyarakatlah yang harus cerdas dalam memilih tayangan.
Namun lagi-lagi, kita disesalkan oleh pilihan, jika mau jujur ada berapa televisi yang menayangkan program-program mencerdaskan? Tidak banyak. Belum lagi pertelevisian kini mengacu pada Rating, semakin tinggi Rating sebuah tayangan maka semakin banyak pula iklan di dapatkan. Itu tandanya program mereka akan kebanjiran uang. Hal tersebut belakangan memunculkan istilah “yang penting rating, cerdas gak cerdas belakangan.”

Mau tidak mau sebagai pemegang kendali frekuensi, tanpa sadar kita di jejali dengan berbagai macam bualan bahwa tayangan itu hanya untuk hiburan.
Sudah saatnya kita cerdas dalam mengkonsumsi tayangan. Jangan sampai anak-anak atau bahkan kita sendiri terpapar khayalan bahwa TV itu bisa mencerdaskan. Bila memang ada, kemungkinan itu sedikit sekali. Inilah yang terjadi apabila kehidupan kita diatur oleh selain islam jauh dari kata aman bahkan nyaman, terutama dalam menyaksikan siaran.

Baca selengkapnya

Sabtu, 09 September 2017

Lelaki Akar



Nak, meski tak sehebat perempuan, tapi tanpa lelaki kau tidak akan sanggup sendirian. Ia adalah akar yang diam-diam mengokohkan, dengan tidak kau sadari, ia selalu menelisik ke tempat paling bawah mencari genggaman kuat. Itu semua agar kau tetap menjulang tinggi dan tak rubuh saat tertiup angin masalah.

Hadirnya ia menjadi penyempurna bahwa mustahil ada wanita hebat dengan dahan indah prestasi, batang-ranting kuat jiwa, tanpa ada lelaki akar dikedalamannya.

Meskipun begitu, sebagaimana akar, kau perlu rajin-rajin memberikannya air kasih sayang, ‘pukpuk’ ia saat sedang bersedih sebab jika tidak kau akan layu-mengering sampai akhirnya tiada.

Nak, lelaki adalah akar yang tanpa di ketahui memberikanmu banyak kekuatan. Rawat ia, jaga dengan baik jangan sampai kehilangan.

Ada banyak cara akar yang tanpa kau mengerti mampu menguatkanmu. Ketika kau berhasil menjadi indah misalnya, ia tetap berada dibawah tanpa sedikitpun mengganggu anggunmu.

Iya, lelaki akar selalu berhasil memesona tanpa terlihat, diam-diam mendoakanmu agar kau bahagia diatasnya.
Baca selengkapnya