Minggu, 10 Maret 2019

Zainudin, Hayati dan Harapan yang Pupus



            Sebenarnya saya sudah ada niat beberapa waktu lalu untuk menuliskan ini, tapi rasa-rasanya waktu belum menyempatkan tempatnya untuk menceritakan apa yang saya rasakan setelah membaca novel maha karya dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini diberi judul, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, sebuah kisah klasik yang ditulis dan belatarbelakang pada tahun 1930 di Negeri Minangkabau. 

Perasaan saya setelah membaca buku ini bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena ada seseorang yang telah menuliskan cerita seapik ini, sedih karena beliau telah wafat tiga puluh delapan tahun yang lalu.

Jujur, saya lebih menyukai untuk menyimpan apa yang saya rasakan setelah membaca buku terlebih bergenre fiksi, tetapi buku ini berhasil ‘memaksa’ saya untuk menuliskannya, insya Allah mudah-mudahan ada manfaat yang bisa kita dapat didalamnya.

Terusir

Beberapa tahun lalu mungkin kita sempat mendengar kalimat guyon “Hayati lelah bang!”, “Iya bang Zainudin,” dan mungkin ada kalimat lainnya yang saya tidak terlalu ngeh atau hafal kalau sebenarnya ia adalah plesetan dari kisah yang akhirnya difilmkan tersebut. Di novel ini pemeran utama adalah seorang pemuda yang lahir di Makassar dan mengalir darah Minang dari Ayahnya.
Dalam adat Minangkabau seorang anak yang terlahir dari Rahim ibu non-Minang, anak tersebut tidak memiliki suku baik dari pihak Ayah atau Ibu dan tidak juga berhak atas gelar sako dan pusako hal ini disebabkan masyarakat minang meletakkan garis keturunan pada Ibu (matrilineal) bukan pada Ayah (Patrilineal).

Hal inilah yang dialami oleh Zainudin didalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Ayahnya telahir sebagai minang  sedangkan sang istri asli Makassar sehingga ketika ia memutuskan pergi ketempat lahir sang Ayah untuk mengecap bagaimana rasanya memiliki keluarga ia justru merasa tidak dianggap sebagai orang asli minang, tidak diperlakukan sebagai saudara dekat dan dijauhi dalam pergaulan muda-mudi Minangkabau pada saat itu. Ia seakan terusir dinegeri tempat kelahiran Ayahnya sendiri.

Menumbuhkan Semangat

Zainudin merasa sedih dan putus asa, di negeri Makassar ia juga kerapkali merasa demikian sebab ada yang mengatakan “Kau ini orang minang Zainudin, bukan orang makassar,” dan ketika tiba di tanah Minang ia dianggap orang Makassar. Ah, agaknya malang sekali nasib Abang Zainudin ni. Tetapi tokoh utama yang dituliskan oleh Buya Hamka ini adalah orang yang berbudi luhur, baik, pelajar agama, santun, sehingga penduduk minang di tempat ia tinggal juga baik kepadanya. Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Hayati, gadis desa yang digambarkan cantik jelita nan baik budi agama, lukisan alam, lambaian gunung berapi. Bak bunga layu tersinari matahari begitulah Zainudin bertemu hayati. Hatinya kembali mekar, semangatnya tumbuh setelah sekian lama lesu.

Kini Zainduin telah menemukan alasannya untuk bertahan, untuk tetap hidup, Hayati. Perempuan yang telah menyirami hatinya dengan harapan cinta karena setelah perbincangan mengalir melalui surat, Hayati pun menyambut cintanya.


Berkhianat?

Demikianlah, untaian kata yang mereka lakukan untuk saling mengatakan cinta tertuang didalam surat-surat yang mereka buat. Sangat sederhana, tentang kepeduliaan, rasa iba dan empati yang bermuara pada kasih sayang. Terkadang saya berpikir bahwa begitu indah kiranya ketika orang jatuh cinta pada masa dahulu saling menjaga, selalu melihat batasan-batasan agama. Karena ketika cinta sudah datang tak patut rasanya dipermainkan atau pun hanya sekedar pelampiasan.

Tibalah waktu dimana Zainudin akhirnya harus pindah tempat belajar dan berteduh, ia mendapat nasehat –bila tidak ingin disebut sebagai kata pengusiran—untuk menjauhi Hayati, perempuan basuku, beradat dan berlembaga. Apalagi memang sang Paman tidak setuju bila kemenakannya harus menikah dengan seorang laki-laki yang tidak tentu asal, tak beradat serta tak beruang.

Alangkah berat langkah kakinya untuk melangkah meninggalkan mentari yang telah memberi harapan. Namun wanita yang telah bertukar surat dan menumpahkan perasaan kedalamnya itu berpesan bahwa ia akan tetap setia menunggu kedatangan laki-laki yang dicintai itu, akan tetap suci hingga Zainudin kembali. Tetapi rupanya takdir tidak berpihak pada Zainudin, selang beberapa minggu ia dilamar oleh Aziz, kakak sahabat baik Hayati, Khadijah. Kaya, beradat, dan juga berlembaga ninik-mamak Hayati pun terpana. 

Di saat yang sama Zainudin pun mengungkapkan lamarannya kepada Paman gadis yang dicintainya itu dengan bermodal tiga ribu rupiah, dan tentu saja cinta yang begitu besar, tulus, dan sungguh-sungguh.

Duh, teman, jadi agak panjang tulisan ini. Baiklah, kita akan mempercepatnya.

Hayati pun menerima pinangan dari Aziz setelah dirayu –bila tidak ingin dikatakan dipaksa paman—oleh ninik-mamak setelah bermusyawarah. Zainudin ditolak.

Pupus sudah pengharapan, redup pula mentari yang telah menyinari hidup Zainudin. Ia pun meminta penjelasan kepada Hayati, bagaimana tentang “kita” akan seperti apa nasib cinta yang sedang dirawatnya ini yang semakin hari semakin tumbuh dengan indah. Ia pun segera mendapat jawaban dari Hayati, kekasih yang amat dicintainya.

Bagai petir menyambar pohon kemudian remuk batang-batangnya, begitu kiranya hati Zainudin mendapat jawaban Hayati bahwa ia harus mencari wanita lain, Hayati mengatakan tidak bisa hidup bersama bila tidak meiliki apa-apa, pernikahan ini adalah pilihan hati yang telah diputuskan matang-matang.

Bangkit

Pupus sudah harapan. Mentari itu telah benar-benar pergi, dunianya kini begitu gelap. Zainudin terkulai lemas tak berdaya memikirkan nasibnya. Baimanakah kiranya menggantikan matahari bila ia tercipta hanya satu. Tidak, tidak mungkin bisa Zainudin mencari pengganti Hayati gadis yang amat dicintainya. 

Begitu menderita pemuda ini hingga harus menahan sakit yang sangat dalam berbulan-bulan. Makan tak mau minum pun enggan. Sakit. Ah, harus seperti apa saya memberikan kata-kata kepada pemuda yang dalam kisahnya begitu terluka karena cinta. Ia mempunyai niat yang suci tetapi… mungkin belum saatnya ia merengkuh apa yang menjadi kecintaannya.

Hingga akhirnya ia pun memilih untuk bangkit kembali, menderita karena wanita yang mungkin telah berkhianat itu bukanlah pilihan baik. Untuk apa menangisi wanita yang mungkin sedang bahagia dengan lelaki pilihannya. Untuk apa? Bukankah hidup akan terus berlanjut.

Mawar tak setangkai, kumbang tak seekor.

Gula, Semut dan Hikmah

Teman, mari kita persingkat. Zainudin kemudian menjadi penulis ternama, disegani, terhomat, dan tentu saja kaya raya, tapi itu tidak melupakan siapa jati dirinya, pemuda yang berbudi luhur, santun dan baik hati. Wanita cantik mana yang tidak akan terpikat dengan seseorang yang mahsyur? Ia seperti gula yang amat disukai semut.

Ok, skip. Cerita berakhir dengan tenggelamnya kapal Van der Wijck bersama Hayati dan disusul kemudian oleh Zainudin, seorang yang juga amat dicintainya. Kamu harus baca bukunya untuk mengetahui lebih detail dari apa yang kita ceritakan ini.

Ah… kisah cinta yang mengharukan. Karya sastra yang serat dengan pelajaran dan budaya, telebih saya dapat banyak mengetahui budaya minang. Maklum, saya adalah lelaki seperti Zainudin, Ibu saya bukan orang minang tetapi sangat tertarik dengan Budaya kampung Ayah yang telah cukup banyak melahirkan pejuang kemerdekaan. Dan yang saya sukai adalah penulis buku ini, Buya Hamka. Sastrawan tapi juga Ulama, Ulama, tapi juga penyair.

Kisah Zainudin dan Hayati sedikit banyak mungkin memiliki persamaan dengan kisah kita, hm, 
maksudnya kisah muda-mudi zaman sekarang. Terpuruk sebab cinta namun tidak segera bangkit. Ia lebih memilih tenggelam bersama kenangan yang tidak akan pernah kembali, membenamkan kepala sangat dalam pada rasa kecewa, kepada takdir yang mungkin saja tidak berpihak. Hanyut dengan harapan yang telah pupus dan akhirnya menjadi orang yang pesakitan.

Teman, untuk apa sedih berlama-lama?

Untuk apa?

Bukankah cukup banyak orang-orang yang kalah dalam percintaan namun menjadi pemimpin, penyair, pejuang, penulis, pengusaha yang sukses dan menjadi lebih baik? Kita boleh kecewa, boleh sakit, tetapi jangan biarkan kesedihan itu terus menetap dan menjadikanmu orang yang hilang. Apalagi, mohon maaf, bila mungkin cinta yang kita tangisi itu tak lebih lebih hanya sekedar nafsu, ya, kita mulai menjalani cinta dengan melanggar perintah Allah.

Untuk apa?

Perhatikanlah sebutir gula mengapa ia digemari semut, mengapa semut mengetahui dimana saja gula itu berada. Alangkah baiknya kita memperbaiki diri, meluruskan niat dan menguatkan tekad untuk lebih baik dari sebelumnya. Baguskan diri, kuatkan perjuangan, perdalam ilmu, capailah kesuksesan dan keridhaan Allah niscaya jodoh yang baik akan datang padamu.

Ikhlas memang tidak mudah, tetapi yakin dengan keputusan Allah adalah sebuah pilihan yang sangat indah. Dan lagi, ketika kelak dipertemukan oleh seseorang yang pada akhirnya kita jatuh hati, perjuangkanlah, sunguh-sungguh, tidak main-main dan tidak boleh melanggar batasan di dalam islam seperti pacaran. Sebab bila benar cinta sejati yang kita cari, kita tidak akan memulainya dengan langkah penakut lagi pengecut karena lelaki seperti itu tidak masuk kriteria  yang ‘Hayati’ cari, bang!

Semoga Allah merahmati Buya Hamka.


Saudaramu,
Harun Tsaqif

Baca selengkapnya

Sabtu, 09 Maret 2019

Hati - Hati Dosa Investasi



            Menjadi seseorang yang di idolakan, terkenal, memiliki banyak pengikut di social media bagi sebagian orang mungkin adalah impian yang tidak boleh dilewatkan. Dengan begitu ia akan mendapatkan keseganan, rasa hormat, dan mungkin kemewahan. Hanya tinggal posting atau upload sesuatu yang membuat pengikut suka dan senang atau mungkin ingin anti mainstream lalu menshare sedikit kekonyolan yang jenaka. Kalau beruntung pengikut akan berdatangan. Rasanya mudah bukan?

Tetapi ketika kita beranggapan setiap pengikut di akun media sosial hanya sekedar angka atau tidak lebih dari sekumpulan orang dunia maya yang tak nyata sepertinya kita harus mengubah sudut pandang ini sebab netizen, begitu orang banyak menyebutnya, adalah akun-akun unik yang dikendalikan manusia itu sendiri. Apa yang kita posting, upload, share di social media adalah seperti menaruh investasi yang terus berkembang seiring pertumbuhan pengikut. Namun yang perlu digaris bawahi investasi ini tidak hanya memberikan ganjaran di dunia melainkan juga di akhirat kelak.

Saat apa yang kita posting adalah hal positif dan bermanfaat maka hal ini adalah investasi kebaikan yang menghasilkan pahala dan akan terus mengalir apabila seseorang yang merasakan manfaatnya terus mengamalkannya. Bisa dikatakan ini merupakan pahala investasi. Begitupun sebaliknya ada dosa investasi, ketika apa yang di share merupakan hal yang tidak baik, melenakan, dan mengajak pada hal yang tidak disukai Allah lalu pengikut dari akun tersebut mengikutinya ia akan mendapat dosa meskipun ia tidak mengerjakannya atau pun telah meninggalkan dunia.

Orang pertama yang melakukan kebaikan akan mendapatkan kemuliaan karena menjadi inspirasi bagi setiap orang dan seseorang yang pertama-tama melakukan keburukan akan mendapatkan kehinaan sebab telah menjadi contoh atas keburukan yang terjadi selanjutnya.

Dalam mula-mula nabi Adam ‘alaihisalam turun kedunia untuk memakmurkan bumi bersama sang istri, lahirlah dua orang anak laki-laki dan perempuan mereka lahir sepasang dan sepasang. Kemudian Allah hendak memerintahkan nabi Adam ‘alaihisalam untuk menikahkan mereka secara silang. Mendengar hal ini satu laki-laki bernama Qabil tidak suka bila saudari perempuannya harus menikah dengan Habil sebab menurutnya dia lebih pantas.  Singkatnya di akhir kisah Qabil membunuh Habil lantaran dengki Habil berjodoh dengan saudarinya. Dan jadilah Qabil orang pertama yang menumpahkan darah pertamakali di dunia.

“Tidak satupun jiwa yang terbunuh secara zalim,” ucap Rasulullah dalam hadist riwayat bukhari, “melainkan putra Adam yang pertama ikut menanggung (dosa pertumpahan) darah itu karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.

Dari sini kita dapat mengatakan bahwa Qabil telah melakukan dosa investasi dengan menjadi orang pertama yang melakukan pertumpahan darah. Sebab setiap anak manusia yang melakukan pembunuhan Qabil mendapatkan bagian dosanya. Agaknya sama seperti kita memposting, ketika ia berisi sesuatu yang tidak baik maka keburukan itu akan terus mengalir kepada orang pertama yang menguploadnya ketika ia terus di ikuti. Itulah kiranya yang menyebabkan kita mesti berhati-hati. Apalagi social media saat ini memiliki dampak yang tidak bisa dikatakan kecil dalam merubah prilaku manusia.

Setiap pengikut yang mengikuti akun kita adalah amanah, tanggung jawab, postingan yang diberikan sedikit-banyak akan memberikan pengaruh padanya. Jadilah seseorang yang menginspirasi dan mengajak pada kebaikan karena kelak semua akan dipertanggung jawabkan.

Saudaramu,
Harun Tsaqif

Baca selengkapnya

Selasa, 02 Oktober 2018

Sudah Siap Jatuh Cinta?




                Barangkali hidup seseorang tanpa cinta, bagai mawar tanpa air, perlahan layu, lalu kemudian ia mati. Cinta adalah fitrah yang telah Allah berikan kepada setiap makhluknya melalui gharizah nau’ sebuah hasrat melestarikan keturunan, memenuhi kebetuhan biologis yang mesti di implementasikan bila tidak ingin resah atau gelisah yang tak berkesudahan. Maka mereka yang menolak fitrah ini sama seperti melawan titah ilahi yang pasti berujung kerusakan, dan untuk itulah mengapa mencintai adalah sebuah keharusan.

Agar saat mencintai tidak sakit hati, agar ketika jatuh cinta tidak berakhir kecewa kesiapan diri perlu ditata. Maksudnya, setiap orang perlu menyiapkan hal-hal saat jatuh cinta, ini dilakukan agar hati tidak mudah terluka dan tidak menambah dosa. Karena betapa banyak ia yang jatuh cinta tetapi  hanya mendapatkan duka dan terjebak pada aktifitas yang menyeretnya pada kehinaan semata.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan?

Pertama sekali adalah menyiapkan hati, karena saat jatuh cinta kita sedang berbicara tentang perasaan dan hatilah yang memiliki peran penting dalam hal ini. Saat jatuh cinta, pastikan hatimu merasakan ketenangan, cenderung untuk bersemangat dalam hal apapun utamanya ibadah. Sebab jatuh cinta sejatinya adalah hal positif. Bila dilangkah awal kita merasakan ini, silahkan lanjutkan kembali jatuh cintanya.

Kedua, akal. Informasi yang benar adalah saat dapat diterima oleh hati dan akal, pun soal jatuh cinta, perlu kiranya untuk dicerna oleh pikiran. Karena terlalu banyak menggunakan hati tanpa di imbangi dengan akal akhirnya pasti baper, mudah kecewa dan melanggar batas-batas syariat yang telah ditetapkan. Karena saat jatuh cinta semestinya seseorang itu tidak buta. Cerna oleh akal tentang perasaanmu, jika ia membawa pada aktifitas maksiat jatuh cintamu jelas salah, dan mesti berbalik arah.

Terakhir adalah doa, saat kita telah jatuh cinta mintalah kepada Allah agar senantiasa menjaga hati dan pikiran kita agar tidak melakukan hal-hal yang murkai Allah. Mohon perlindungan agar syaitan tidak mudah menunggangi perasaan.  Berdoa agar jatuh cinta ini diridhai oleh-Nya sehingga membawa kita pada kebaikan.

Jadi, sudah siap jatuh cinta?

Baca selengkapnya

Sabtu, 29 September 2018

Haoshoku No Haki dan Kaum Yang Terpilih



            Laki-laki bertubuh karet itu mengepalkan tangan sembari menarik kuat lengannya, ia sedang beraba-aba dengan jurus gomu-gomu no, red hawk, yang siap di hantamkan pada musuh. Seketika, penjahat dengan rambut ikal itu tersungkur dengan satu kali pukulan. Laki-laki tersebut adalah Monkey D. Luffy, kapten dari bajak laut Topi Jerami.

One Piece adalah cerita/komik yang saat ini masih berusaha dirampungkan oleh Eiichiro Oda, sang penulis yang memenangi Guinness World Record karena penjualan komiknya yang sungguh laris di pasaran. Sampai hari ini, saat tulisan ini di buat cerita One Piece sudah memasuki episode 919.

Akan tetapi ditulisan ini kita tidak sedang membahas manga dengan predikat internasional bestseller tersebut secara keseluruhan, saya bukan otaku, bukan juga maniac, hanya pembelajar dan sedang mengasah kembali tulisan yang agak panjang setelah beberapa waktu tidak update di blog. Hehe.

Ada hal menarik yang Eiichiro Oda sisipkan dalam ceritanya di One Piece, Haoshoku No Haki, bisa dikatakan ini adalah ilmu yang jarang dimiliki oleh setiap orang, hanya beberapa saja, dan itu pun bisa di hitung dengan jari. Kekuatan yang dapat melumpuhkan ratusan bahkan ribuan orang sekaligus tanpa menyentuhnya.

Secara umum, di dunia One Piece ada tiga jenis Haki seperti,
Kenbunshoku Haki, Busoshoku Haki dan Haoshoku Haki dan jenis terakhirlah yang paling kuat. Haoshoku no Haki juga di kaitkan dengan kekuatan raja, penakluk, karena yang memiliki Haki tersebut hanya orang-orang pilihan dan mereka yang terpilih dapat menguasai dunia. Tentu saja masih di dalam dunia One Piece.

Semua yang telah saya utarakan di atas hanya fiksi dan tidak lebih dari khayalan seseorang saja. Bagaimana kalau di dunia nyata ternyata ada yang memiliki kekuatan lebih hebat dari apa yang dituliskan Eiichiro Oda, orang-orang terpilih yang akan memimpin dunia, ditulis oleh pencipta langit beserta segala isinya. Mereka adalah seorang muslim. 


Ketika satu orang muslim menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangannya, taat dan tidak bermaksiat maka ketahuilah ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menaklukan dunia. Ini hanya satu, bagaimana jika seluruh kaum muslim? Tentu bukan hal yang sulit untuk menjadikan dunia berada digenggamannya.

Kaum muslim adalah kaum yang terpilih untuk menjadi seorang penguasa/Khalifah di bumi mengelola dengan baik dan mengemban amanah dengan terjaga. Dengan kekuatannya yakni, doa yang di akumulasikan dengan ikhtiar penuh taat maka seluruh penjuru negeri akan dibawa pada kesejahteraan dan keadilan. Ah, Haoshoku No Haki tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh seorang muslim.

Oia, Haoshoku Haki dalam dunia One Piece, meski seseorang telah terpilih untuk memilikinya, ia tidak akan dapat menguasai Haki tersebut sebelum melatih dirinya dengan latihan yang cukup keras. Persis saat time skip yang dibuat oleh Oda dalam alur ceritanya, Luffy melatih dirinya untuk menguasai Haki tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan mereka yang terpilih/kaum muslim dan dalam hal ini adalah kita khususnya. Ya, kita tidak akan pernah bisa menaklukan dunia beserta musuh-musuh kaum muslimin bila tidak belajar islam, belajar untuk taat dan belajar untuk selalu dekat pada Allah. Kalau melihat lagi cerita yang di tulis Eiichiro Oda, Luffy bersedia menunda melanjutkan petualangannya selama dua tahun untuk mengembangkan ilmunya, karena ia sadar ia belum mampu mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat darinya. Lalu bagaimana mana dengan kita di dunia nyata. Sudahkah
menyiapkan waktu untuk menuntut ilmu dan belajar kembali?

Kita memang kaum yang terpilih, akan tetapi bila tidak belajar islam, tidak belajar untuk taat dan dekat dengan Allah kita akan di libas oleh musuh. Untuk itulah, mari kita luangkan waktu untuk terus belajar islam agar kaum muslimin dapat kembali menggenggam dunia dengan islam. Bila sudah dekat dengan Allah, ratusan, ribuan bahkan jutaan para pembenci islam dapat dikalahkan dengan mudah seperti menggunakan Haoshoku Haki.

Saudaramu,
@haruntsaqif


Baca selengkapnya

Jumat, 10 November 2017

Fenomena Kids Jaman Naw


Sempat booming dan sepertinya saat ini masih, tentang fenomena Kids Jaman Naw yang mungkin tak habis kita pikir bagaimana ia bisa ‘senarsis’ itu memperlihatkan kekeliruan atau perbuatan yang semestinya tidak boleh dilakukan. Hari ini kita dapat melihat generasi yang sangat besar kreativitas namun sayangnya melewati batas; baik norma ataupun islam. Jika menengok kawula muda hari ini khususnya remaja mudah bagi kita menemukan mereka berjalan berduaan, melakukan petting ala prancis, hug like inggris.

Kadang akal sehat kita bertanya, kok bisa ya mereka melakukan hal semacam itu, padahal di jaman dulu kita tidak berani, bahkan orang yang melihat kita berbuat seperti itu bisa di tempeleng.

            Itu hanya sekecil fakta yang beredar banyak di tengah pengelihatan kita. Tentu saja ini merupakan degradasi moral cukup parah. Bisa di bayangkan bagaimana nasib sebuah negara bila generasi penerusnya justru terjatuh dalam pusaran kebebasan? Ambruk.

Ini semua tentu ada yang salah. Kira-kira apa penyebabnya? Banyak. Dari tontonan yang tidak mendidik, pergaulan yang kurang pengawasan hingga sistem yang di terapkan. Kalau mau jujur, sinetron saat ini kurang mengedukasi bahkan cendrung tidak bermutu, dan sebagian besar remaja kita hari ini mengambil banyak contoh dari apa yang mereka tonton. Efeknya, generasi saat ini tidak semua cerdas. Belum lagi pergaulan bebas yang sedikit banyaknya mempengaruhi sikap dan tumbuh- kembang remaja.

            Bicara soal pergaulan, saya yakin para orangtua amat cemas dengan hal ini. Pergaulan Kids Jaman Naw semakin ngeri, beberapa waktu lalu saja ada anak SMP yang diberitakan sedang asik bercumbu bersama pasangannya. Duh, mau jadi apa bangsa ini.

            Terakhir sistem, jika kita ingin sedikit lebih berfikir tentang fenomena Kidz Jaman Naw ini semua sebab sistem sekuler yang di terapkan. Sistem yang memisahkan kehidupan dan agama. Jika boleh bertanya, seberapa banyak pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah? Sangat sedikit, kecuali sekolah berbasis islam. Padahal Pendidikan islam bagi seorang remaja sangat penting untuk membentengi mereka dari fenomena ini, karena sistem mengacu pada pola, unsur dan dasar. Jadi jika sistemnya baik, maka semuanya akan menghasilkan kebaikan. Beda dengan sistem sekuler yang outputnya adalah kebebasan, alhasil terciptalah Kids Jaman Naw yang makin memprihatinkan.

Jadi yuk, kembali pada sistem islam. 

Baca selengkapnya

Minggu, 22 Oktober 2017

Membaca dan Menulis dalam Memajukan Peradaban


Mungkin tidak berlebihan jika majunya sebuah bangsa dapat terlihat dari kegemaran mereka membaca dan menuangkan apa yang dibacanya dalam sebuah tulisan. Sebuah survei yang di lakukan oleh Most Littered Nation In the World tahun 2016 yang berbasis di Amerika Serikat memberikan penilaiannya terkait minat baca di berbagai negara termasuk Indonesia di dalamnya menunjukkan bahwa posisi Indonesia berada di peringkat 60 setelah Thailand dari 61 negara yang diadakan survei tersebut.

Pada faktanya inilah yang tengah terjadi di negeri ini, krisis minat membaca dan menulis, lebih lagi negara ini adalah mayoritas muslim. Jika kita berkaca pada sejarah, peradaban islam memuncaki dunia karena budaya membaca  dan menulis yang tidak pernah ditinggalkan. Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmuan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, optik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Sebut saja Ibnu Khaldun, cendikiawan muslim yang menulis buku mukaddimah setebal 1000 halaman dan kerapkali disebut sebagai Bapak Sosiologi, Ibnu Al Hatsami yang menemukan ilmu optik kamera, Al Khawarizmi pencipta angka nol dan metode Al jabar dan masih banyak lagi.

Penemu-penemu yang terlahir dari rahim umat islam adalah ia yang tidak meninggalkan tradisi membaca dan menulis. Pun sejarah mencatat ditengah kemajuan peradaban umat islam (the golden age) barat dengan ketertinggalannya (the dark age) mengekor pada umat islam. Hal yang tidak bisa kita pungkiri bahwa umat islam merupakan penyumbang terbesar bagi kemajuan zaman saat ini dan sekali lagi, hal ini di karenakan tidak ditinggalkannya budaya membaca dan menulis.

            Begitu dahsyatnya efek dari membaca serta menulis, ia mampu membawa negara menuju puncak peradaban, membuat hal yang tiada menjadi ada seperti negara Israel yang sejatinya dulu hanya angan kini mewujud menjadi negara di tangan Theodore Herlz akibat tulisannya Altneuland yang menginspirasi kaum Yahudi untuk mempunyai sebuah negara.

Bahkan Samuel Huntington yang menulis ‘disertasi’ doktoralnya tentang ”Benturan Peradaban”, antara peradaban Barat (Kristen, Yahudi dan sebagainya) dengan peradaban Dunia Timur (Islam) pada akhirnya menjadi rujukan Dunia Barat dalam menilai dan menyikapi kebangkitan dunia Islam (as-shahwah Islamiah). Huntington meyakini dan menulis angan-angannya bahwa setelah Amerika memenangkan Perang Dunia II, maka lawan mereka berikutnya yang akan dan harus dihadapi adalah ”umat Islam.” Efek besar dari tulisan (disertasi) Huntington tersebut kini menjadi aksi nyata eksistensi dunia barat yang dirasa oleh hampir semua umat Islam diseluruh bagian dunia. Hampir disemua lini dan segmentasi tatanan kehidupan negara-negara Islam berada dibawah cengkeraman Amerika-Barat.

            Begitulah tulisan merubah masyarakat dan dunia. Begitupula membaca membawa negara pada kebangkitan yang tidak terbendung. Sebagai masyarakat muslim kita harus kembali menghidupkan tradisi membaca dan menulis ditengah-tengah umat agar senantiasa mencerdaskan dan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk kembali memimpin dunia. Jika melihat ulama-ulama dahulu, mereka adalah penulis, ilmuan dan pemikir-pemikir islam yang tidak jarang dengan kebiasaan tersebut muncul-lah karya yang di jadikan rujukan oleh kaum muslim hingga saat ini; ada Imam Malik dengan Al Muwatho'nya ada Imam Syaf'i bersama Ar Risalahnya, ada Ibnu Hajar Al Asqalani dengan Fathul Bari-nya, ada Imam an Nawawi melekat Riyadhus Shalihinnya, dan masih banyak lagi karya-karya besar milik kaum muslim dalam membangun peradaban islam.

Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. 

Senada dengan Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang mengatakan, “aku lebih takut pada penulis daripada 1000 pasukan bersenjatakan lengkap.” Maka budaya membaca dan menulis tentunya sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa. Jika kita tidak mulai membiasakan membaca maka otak kita tidak akan pernah mendapatkan informasi atau ilmu baru. Pun jika kita tidak membiasakan menulis maka tulisan-tulisan hanya akan di penuhi oleh pemikiran yang merusak dan hal ini tentunya menjadi penghambat bagi majunya sebuah bangsa lebih lagi peradaban islam.


Baca selengkapnya

Sabtu, 21 Oktober 2017

Pendiri Zionis dan Impian yang Berdurasi


Mari mematok impian, tentukan kapan ia terwujud. Kali ini kita akan mengambil contoh dari Theodore Herlz tentang Impian yang berdurasi. Saat kita membaca sejarah terutama sejarah islam, dahulu sekali negeri palestina adalah tanah yang merdeka, bergabung bersama kekuatan besar, Khilafah Turki Utsmani, Daulah Khilafah yang menaungi negeri-negeri islam sebelum akhirnya runtuh pada tahun 1924.

Kita akan mundur beberapa tahun silam sebelum akhirnya inggris berhasil menguasai Palestina dan membuatnya tunduk tak berdaya. Theodore Herlz adalah aktor utama dibalik pendirian negara Israel Raya, ia merupakan seorang Jurnalis sekaligus ahli hukum yang membuat durasi impiannya menjadi nyata. Ia menargetkan bahwa sekiranya 50 tahun kedepan orang-orang Yahudi sudah memiliki negara tempat mereka menetap dan membesarkan anak. Hal ini dikarenakan kaum Yahudi kerap kali di aniaya dan di usir berbagai negara tempat mereka tinggal.

Pembantaian kaum Yahudi oleh kelompok Nazi misalnya, adalah tragedi yang menyimpan luka cukup dalam dan tak akan pernah terlupakan baik oleh sejarah ataupun kaum Yahudi sendiri. Melihat hal tersebut, inilah yang mungkin menjadi pemantik Herlz untuk menargetkan impiannya. Ya, etnis Yahudi harus memiliki Negara sendiri agar mereka tidak terkatung-katung ditengah pelarian.

Theodore Herlz.

Herlz, di dalam perjuangannya mewujudkan impian cukup gilanya itu tak jarang mendapatkan hinaan serta ledekan dari kaumnya sendiri, “Halah. Mau buat negara, hidup kita saja harus berlari jika tidak ingin mati.” Tapi ia sungguh tidak memedulikan hal itu. Ia tetap fokus pada impiannya. Mendirikan Negara Yahudi. Belakangan ia membuat konferensi untuk membahas hal ini dengan mendirikan gerakan Zionisme, maka tak jarang Theodore Herlz kerapkali disebut sebagai Bapak Zionis.

Herzl bukan hanya tokoh zionisme, melainkan juga seorang novelis. Lewat novel utopianya, Altneuland (Tanah Lama-Baru), yang diterbitkan pada tahun 1902, Herzl mengkhayalkan sebuah “Masyarakat Baru” di Palestina pada tahun 1923. Maka pada tahun 1948, Israel resmi berdiri di tanah Palestina. Semua merupakan rencana Allah yang tak bisa terelakan. Tentu saja kita bersedih hati atas pendudukan yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap tanah palestina, akan tetapi meski musuh, Herlz memberikan kita pelajaran untuk berani bermimpi, untuk bervisi besar, dan untuk mewujudkan itu semua butuh kerja keras.

Suatu saat di tahun 1898 ia pernah berkata “Hari ini kuproklamasikan Negara Yahudi raya di Palestina. Hari ini memang aku pantas ditertawakan. Tapi selambat-lambatnya 50 tahun lagi” ucap Herlz penuh semangat, “aku yakin bahwa mereka yang mengabdi untuk zionisme-lah yang akan tertawa.”

 Sejak saat itu ia telah menanamkan mimpi besarnya untuk membangun sebuah Negara adidaya. Dengan mimpinya itu, ia mulai melakukan segala hal yang licik dan mencoba melobi Inggris untuk merekayasa dan menskenariokan terbentuknya Negara Israel. Alhasil, ia berhasil  mewujudkan mimpinya.

Diangkatnya Theodore Herlz menjadi contoh dalam tulisan ini bukan untuk membesarkannya, melainkan untuk mengambil cara bagaimana ia berhasil mewujudkan mimpinya, yaitu dengan menentukan durasi kapan impian itu terwujud. Jika Herlz yang musuh islam, jauh dari Allah, licik saja berani bermimpi besar dan menargetkannya. Lalu mengapa kita yang Muslim, dekat dengan Allah bila taat, umat terbaik bila ikuti syariat, di jadikan Allah Khalifah fil Ardh tidak berani bermimpi besar?

Adalah hal yang aneh apabila kita tak berani bermimpi, sebab Rasulullah telah mengajarkan kita untuk senantiasa optimis. Tiada hal yang mustahil bagi Allah jika kita mau berusaha, meski orang-orang mentertawakan-menghina, biarlah ia menjadi bahan bakar untuk membuat lebih cepat mecapai impian yang telah kita buat.

“Ketika kamu diremehkan” tutur Kang Dewa, “fokuslah pada tiga hal; lakukan saja sesuatu yang benar, kerjakan hal yang besar dan biarkan hasilnya yang berbicara.”

Bermimpilah yang besar, lalu bangun untuk mewujudkannya. Tentukan target kapan tercapainya, niscaya malaikat-malaikat mengaminkan impian kita dan menghantarkannya pada Allah menjadi sebuah doa, hingga nanti Allah akan mengabulkan seiring dengan usaha yang kita lakukan. Semangat!
Baca selengkapnya