Jumat, 23 Oktober 2015

Merekam Tulisan

Rekam Tulisanmu kawan

            Apa yang terlintas difikiran kita, ketika mendengar kata “merekam” ? Yup, pasti berhubungan dengan suatu nada ataupun suara bahkan bisa jadi objek, karena hal itulah yang memang bisa di “rekam.” Tapi, apajadinya bila kita merekam tulisan, Pembahasan seru nih. Apa bisa? Jawabanya adalah, bisa.

Begini, karena semakin canggihnya teknologi dan meluasnya informasi, merekam tulisan dirasa perlu untuk membuat evaluasi-evaluasi berkaitan dengan; kosakata, diksi, alur, dan gaya bahasa dari tulisan yang telah dibuat. Ini hanya untuk kamu yang memang gemar menulis, ataupun penulis sekalipun, atau kamu yang mempunyai semangat tinggi untuk menuangkan ide-ide anda melalui tulisan. Ini –menurut saya—butuh, bukan perlu.

            Pertanyaannya, dengan apa kita merekam tulisan? Sebagian dari kita mungkin sudah ada yang tahu perihal ini, ah, tugas saya disini hanya berbagi jadi saya coba ingatkan kembali; dengan menuliskannya di buku Diary atau Blog.

            Curhat dikit ya. Dulu, sebelum mempunyai niat dan kemauan untuk menjadi penulis, saya coba-coba untuk buat Blog. Lalu setelah itu, saya mengcopy-paste tulisan teman-teman diblog. Tujuan saya cuma satu, saya hanya ingin blog saya itu dikunjungi dan dibaca, syukur-syukur yang membaca mendapatkan manfaat dari tulisan meskipun bukan hasil tulisan saya. Lalu, setelah itu saya berfikir –ciee.— pasti seru kalau misalkan tulisan saya sendiri yang dibaca, dan yang membaca itu mendapatkan manfaat dari apa yang sudah saya tulis. Pun, kemungkinan besar tulisan saya juga akan di “copas” jika memang bermanfaat yes, pahalanya tambah banyak!. Dari sanalah saya bertekad, untuk tetap-terus menulis sampai jari-jemari ini tidak dapat menuliskan/menyentuh tuts-tuts keyboard dengan indah. hehe

Saya memutuskan menjadi Penulis, karena saya meyakini hal ini merupakan bagian dari da’wah bil qalam, berda’wah lewat tulisan, tersebeb sekarang memang banyak tulisan-tulisan berpenyakit yang menebarkan pemikiran-pemikiran sesat, dan juga ajara-ajaran yang malah menjauhkan pembacanya dari Allah ‘azza wa jalla. Na’udzubillahi min zalik.

            Oke, kembali pada pembahasan kita. Merekam tulisan. Saran saya sebagai teman, bagi kamu; penulis, punya cita-cita sebagai penulis, hobby menulis, pun buat kamu yang mempunyai semangat untuk menebarkan kebaikan lewat tulisan, buatlah blog-mu sendiri. Rekam tulisanmu melalui media tersebut. Tulisan-tulisan yang ada di diarymu itu segera posting, jangan takut untuk dibaca oleh orang lain, toh, jika tulisanmu bermanfaat dan di ikuti oleh yang membaca, kamu akan dapat pahala. Seru, kan.

            Pintarlah merasa, banyak orang yang menginginkan tulisan kamu ada diblog mereka. Dan tanpa sengaja menghilangkan namamu dalam webnya. Hal itu tidak akan terjadi kalau kamu membuat blogmu sendiri, setidaknya kamu punya ‘masternya’ jika memang ia meng-copas tanpa permisi. Pun, tulisanmu tetap di apresiasi oleh pembaca lintas dunia inet. Dan berbahagialah jika tulisanmu di copas, itu menandakan tulisanmu bermanfaat baginya. Ya, kan.

            Hm... sampai sini. Rekamlah tulisanmu teman, posting tulisanmu dengan bangga. Jangan dulu memikirkan banyak yang baca atau tidaknya. Tapi berfikirlah, apa tulisamu itu bermanfaat bagi mereka yang membacanya. Tetap posting jika merasa tulisanmu masih perlu perbaikan, karena tulisanmu akan baik seiring kamu menuliskannya. Kalau engkau tidak percaya, silahkan ke sitemap blog ini dan mulailah membaca dari tulisan pertama saya. Berantakan! Hehehe.

Rekamlah tulisanmu, biar kamu tahu; tulisan-tulisanmu itu bersenandung merdu hingga menggema dikepala pembaca.


Semangat menulis. 

            

Bagikan

Tulisan Lainnya

Merekam Tulisan
4/ 5
Oleh

2 komentar

Tulis komentar
avatar
8 November 2015 16.16

semangat,.. InsyaAllah. Dakwah bil Qalam. :)

Reply

Tinggalkan kesan.