Sabtu, 30 Januari 2016

Sepasang Cinta Abadi




Mekkah, dipeluk bahagia, terlebih dihati seorang wanita bernasabkan mulia, berhartakan melimpah dan berkedudukan tinggiA di tengah kaumnya. 

Khadijah binti Khuwailid, tak lama lagi akan bersuamikan seseorang lelaki begerlar Al amin, berbudi luhur nan santun, akhlaknya membuat semua orang mencintainya, ialah pemuda tampan nan gagah, yang kelak setelah beberapa tahun pernikahannya ia diberi gelar sebagai Rasulallahu shalallahu'alaihi wassalam.

***
Muhammad dan Khadijah menikah, dua insan yang jauh-jauh hari telah Allah tulis dalam catatan abadi lauhil mahfudz untuk menyatu padu, membingkai hari dengan kasih nan cinta yang menghilangkan dahaga jiwa.
Iya, mereka adalah sepasang cahaya yang menerangi gelapnya kemusyrikan kota mekkah dengan cahaya iman. Bahkan, bukan hanya kota mekkah, tapi juga seluruh insan yang saat ini merasakan manisnya iman, karena pengorbanan keduanya diawal risalah islam.

Di Bilik-bilik cinta Muhammad, sebuah kisah kutemukan, membacanya seperti kembali pada sejarah saat keduanya menyemai cinta dengan penuh bahagia. Sampai akhirnya risalah rabbi menghujam dada pada lelaki pilihan, suami tercinta, dan juga Ayah bagi anak-anaknya. Muhammad shalallahu'alaihi wassalam.

Seketika itu, perlahan, tugas agung nan mulia itu diemban-disebarluaskan, hingga beberapa penduduk kota mekkah beriman, meninggalkan berhala yang pernah mereka sembah sebagai tuhan. Pun, sepupu Khadijah, Waraqah bin Naufal pernah menyampaikan; "Seseorang yang membawa risalah Ilahi, akan dimusuhi, bahkan kaumnya sendiri akan melawanya, begitulah keadaan Nabi terdahulu." 

Semakin banyak penduduk mekkah yang beriman, makin bertambah pula kebencian kaum musyrik mekkah terhadap Muhammad Shalallahu'alahi wassalam. Berbagai hinaan, cacian bahkan siksaanpun tak luput menjejali beliau.

Namun, semua itu tidak menghentikan beliau untuk menyebarkan risalah ilahi. Terlebih, Khadijah, sebagai sang istri selalu menyemangatinya, bahkan menghabiskan seluruh harta miliknya demi kepentingan suami tercinta.

Saat Muhammad dipenuhi luka, Khadijah selalu hadir untuk mengobati lukanya. Ia tegar berdiri disamping sang suami, menemani perjuangan mulia nan suci. Hingga pemboikotan terhadap seluruh keluarga dan pengikut kebenaran terjadi, Khadijah masih tetap setia dan berjuang bersama sang suami.
Di Bilik-bilik cinta Muhammad, lelaki bergelar Rasul itu memiliki cinta yang besar terhadap istri dan juga keluarganya.

"Betapa perjuangan Rasulallah, tidak hanya mengajarkan kita untuk membangun negara, tapi juga untuk membangun keluarga penuh takwa" begitulah tulis Dr. Nizar Abazhah dalam pengantarnya dibuku Bilik-bilik cinta Muhammad. 

***

Sepasang Cinta Abadi, ingin meberitahukan kita; lelaki bergelar Rasul itu memiliki cinta setia pada istrinya, Khadijah.

Di Sepasang Cinta Abadi, perjuangan keduanya saat awal risalah islam amatlah berat nan memilukan. Pengorbanan begitu banyak terjadi, bahkan nyawa siap dipersembahkan demi tersampaikannya risalah ilahi.

Dan di Sepasang Cinta Abadi, Muhammad dan Khadijah bercucuran darah demi menyebarkan islam yang saat ini kita nikmati. Pantaskah kita berdiam diri bahkan bersenang-senang diatas ke islaman yang telah mereka bayar dengan derita bahkan nyawa?

Lalu, pantaskah kita sebagai muslim enggan bahkan menolak untuk memperjuangkan islam sebagai bingkai kehidupan sebagaimana mereka yang telah mati-matian demi tersebarnya islam?
Di Sepasang Cinta Abadi, semoga sama-sama kita tangisi, sikap tak peduli terhadap islam dan enggan berjuang demi tegaknya islam.

Bagikan

Tulisan Lainnya

Sepasang Cinta Abadi
4/ 5
Oleh

1 komentar:

Tulis komentar

Tinggalkan kesan.