Rabu, 28 Desember 2016

Yakin Mau ikut Tahun Baruan?

*Tulisan ini saya kemas dengan gaya anak muda, jadi maaf kalo agak kemudaan. 

***

Hm.. sudah ngga kerasa ya, bentar lagi mau tahun baruan. Tanggal 31 desember nanti rencananya mau kemana? Sudah pesan tiket, atau sudah pesan tempat gitu? Haa.. atau jangan-jangan saat ini sudah ditempat tujuan untuk merayakan tahun baru? Hehe 

Begini-begini, sebelumnya saya sempat menulis “Om telolet itu apa?” untuk yang ingin baca sudah saya siapkan linknya.

ini >>

https://www.facebook.com/Haruntsaqif/photos/a.588312027980143.1073741828.585827368228609/992098297601512/?type=3&theater )



Disana sempat kita membahas tentang muslim yang berprinsip; jika manfaat ia kerjakan jika ngga guna ditinggalin.

Nah… sama nih kaya tahun baru nanti, perayaan yang mungkin bisa dibilang mubazir bahkan berpotensi menimbulkan maksiat. Lho.. ngga percaya? Coba deh cek berita-berita malam pergantian tahun baru kemarin; tagline-tagline beritanya dihiasi dengan berbagai macam perbuatan; ada yang ketangkep gara-gara pesta narkoba, lalu juga ada yang digrebek karena pesta seks, terus juga ada tagline berita, kondom yang bertebaran setelah malam pergantian tahun baru. Silahkan dicek deh kalo masih ngga percaya.

Duh… lag-lagi sepertinya kita harus mengatakan bahwa kita ini suka banget niruin budaya yang asalnya belum kita tahu dari mana, seperti ikut-ikut merayakan tahun baru misalnya. Sudah tahu kalo merayakan tahun baru masehi erat kaitannya dengan budaya paganisme (penyembah patuh/berhala)?
 

Begini ceritanya, tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Ngga lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang udah diciptain selama abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantuin sama Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan supaya penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis –intelek dikit yak—bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. untuk lebih lengkapnya silahkan ke link ini >> http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi saat pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Belum lagi kalo ngebahas masalah meniru suatu golongan, hadeeuh.. jelas banget kalo ini yang dinamakan tasyabbuh. Nabi Muhammad shalalallahu’alaihi wa salam mengatakan;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Nah, karena merayakan tahun baru masehi merupakan budaya orang kafir, kita dilarang untuk mengikutinya, toh buat apa buang waktu, tenaga, fikiran dengan momen yang ngga dibolehin dalam islam. Pas tahun baru Islam kemarin aja kamu ngga seheboh ini kok. Upss….! 

“Tapi kan Kak, ini cuma untuk hiburan aja”

Kembali lagi nih… sedikit mengambil tulisan “Om telolet itu apa?” hehe sebagai muslim saat kita melakukan sesuatu semua terikat dengan hukum syara’ (Al quran dan Sunnah) dan semua yang kita kerjakan berpontesi pahala atau dosa, manfaat juga ngga guna. Islam ga melarang hiburan, asal ia membawa kebaikan serta manfaat, dan satu lagi ngga buat kita jadi lalai.

“Tapikan kak…”

Dik… euforia atau kesenangan mereka cuma sesaat, biarkanlah budaya mereka menjadi milik mereka sendiri, kita ngga usah ikut-ikutan, kan udah tahu asal budaya merayakan tahun baru masehi darimana. Masa kamu mau ikutan tersesat juga, kan gak lucu. 


Udah deh.. mending tahun baru masehi nanti kita jadikan ajang muhasabah lagi, berkontemplasi, inget-inget apasaja yang belum kesampain dalam melakukan kebaikan. Ini yang terpenting.

Jadi, masih mau ikut-ikutan budaya kaum kafir?

Akusih nggak deh… Abang lelah dek... 
 

Bagikan

Tulisan Lainnya

Yakin Mau ikut Tahun Baruan?
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.