Sabtu, 11 Februari 2017

Bisyarah


Kaum musyrik telah sepakat untuk menggempur Madinah, kali ini mereka berkumpul dengan banyak pasukan. Inisiator perang tak lain adalah kaum Yahudi yang semakin berang akan kegemilangan kaum muslim. Mereka menyambangi berbagai kabilah untuk turut bertempur bersama mereka, tak terkecuali kaum kafir Quraisy yang gencar permusuhannya terhadap Muhammad dan pengikutnya.

Berita ini terdengar oleh Nabi, tanpa membuang waktu beliau mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah hingga akhirnya di putuskan untuk menggali parit atas usulan Salman al Farisi.

Usulan Salman pun dilaksanakan. Proyek dimulai dari sebelah utara Madinah, antara dua tanah vulkanik Waqim dan Wabrah. Alasannya adalah karena disamping dijejali bangunan, setiap sisi Madinah juga dikelilingi tanah vulkanik dan kebun kurma kecuali sebelah utara.

Nabi menetapkan setiap sepuluh orang menggali lubang empat puluh hasta. Setiap sisi parit diserahkan pada satu kelompok Muhajirin atau Ansar sehingga keduanya saling berlomba. Khusus Salman al Farisi, ia bekerja sendirian. Semangatnya luar bisa karena kerjanya sebanding dengan sepuluh orang.

Saat penggalian parit, beberapa sahabat Rasulallah melapor bahwa ada sebongkah batu besar yang sulit untuk dipecahkan. Nabi turun tangan dan mengambil cangkul. Sekali Ayun, tanah liat dibawah batu itu mengeluarkan kilat dan pecahlah sepertiga batu. Lalu nabi mengucap;

“Allahu Akbar! Kunci-kunci Suriah diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat melihat menara-menaranya yang merah dari sini”

Untuk kali kedua Nabi mengayunkan cangkulnya. Batu itu pecah lagi sepertiganya dan mengeluarkan kilat.

“Allahu Akbar! Kunci-kunci Persia diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat melihat kota-kota, melihat menaranya yang putih dari sini.”

Nabi mengayunkan lagi cangkulnya. Sisa batu itu pecah, tanah liat dibawahnya kembali berkilat.

“Allahu Akbar! Kunci-kunci Yaman diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat melihat pintu-pintu Shan’a dari sini.”

Para sahabat serempak bertakbir. Mereka bersorak-sorak mendapat kabar gembira tersebut lalu berseru, “Janji itu pasti benar dan membawa kebaikan!” Hal ini terbukti setelah beberapa peperangan, Suriah, Persia, Yaman berhasil ditaklukan oleh kaum muslimin.

Meninggalkan persiapan kaum muslimin saat perang Khandaq. Kita beralih pada  Abdullah bin Amr bin al-Ash yang ditanya, “Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu, Konstantinopel atau Rumiyah?”

Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab lalu menjawab, “Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya, Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu, Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, Kota Heraklius dibuka lebih dahulu, yaitu Konstantinopel.

Ada pembelajaran yang bisa kita petik dari kisah diatas. Sungguh apa yang Rasul ucapkan adalah janji yang pasti terjadi meski banyak orang yang mengkerdilkannya. Ia merupakan Bisyarah yang kelak mewujud dan memperkuat kedudukan kaum muslim serta mengangkat derajat mereka. Suriah, Yaman, Persia lalu Kontantinople telah ditaklukan, kini Rumiyah (Roma) menunggu Anda untuk menaklukannya.

Bangkitlah wahai generasi pembebas, kota Roma menantimu untuk dibebaskan!


Bagikan

Tulisan Lainnya

Bisyarah
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.