Senin, 06 Februari 2017

Karena Cinta adalah Kesiapan



Syahdan, dikisahkan dua remaja tumbuh kembang dalam asuhan yang sama. Mendapatkan cinta dari lelaki yang menjadi idaman setiap anak seusianya. Siapa yang tidak ingin di didik oleh lelaki mulia, yang dengannya cahaya iman kian meluas hingga semenanjung Arab. Ialah Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam.

Dua remaja yang tak pernah lepas dari pengamatan beliau. Ia berikan cinta juga ilmu pada mereka, tidak pilih kasih meski satu remaja diantaranya hanya menyandang status sepupu. Ali bin Abi Thalib namanya. Tumbuh dan berkembang dengan tempaan tangan penuh cinta yang kelak membuatnya menjadi seorang Khalifah setelah sahabat mulia Ustman bin Affan.

Satu lagi remaji yang yang menjadi kecintaan beliau, terlahir dari istri tercinta yang membantu dakwah Nabi pertama kali ialah Fatimah Az Zahra. Meski mereka  tumbuh besar bersama, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka menyimpan perasaan yang kian berdegup kencang, yang mungkin bila dijelaskan, akan terlihat jelas rona-rona merah dipipi keduanya. Namun saat rasa tidak menentu itu singgah, sekuat hati mereka menahan untuk tidak mengatakan. Walau gelisah kerap kali menghampiri, berazam dalam hati untuk menjaga perasaan suci ini merupakan perjuangan.

Waktu terus berjalan bersamaan dengan kematangan ilmu yang mereka miliki. Tiba saatnya untuk menikah. Abu Bakar maju pertama kali untuk meminta putri Rasulallah tercinta. Mendengar kabar ini Ali terkejut, tak kuasa menahan sesak, gadis teman bermain yang juga dicintainya diam-diam ingin dinikahi sahabatnya.

Namun Ali bukanlah pemuda yang mudah nesatapa dan menangis karena cinta seorang wanita, ia berlapang dada. “Abu Bakar lebih baik dariku, ia sosok yang membersamai Rasulallah saat hijrah, hartanya ia habiskan untuk islam, siapa yang meragukan keimanan Abu Bakar, ia pantas mendapatkannya”

            Sepertinya Allah berkehendak lain. Abu Bakar ditolak oleh Rasulallah. Setelah kabar ini sampai pada Ali, ada sedikit rasa lega nan membingungkan; mengapa Rasulallah menolak Abu Bakar menjadi menantunya.  Biarlah ini menjadi rahasia antara Allah dan Rasul.

Ali kembali bersemangat untuk terus memantaskan diri. Namun kiranya, Ali harus kembali menahan hati, karna kini giliran Umar yang menyambangi rumah Rasulallah untuk meminta restu menjadikan Fatimah sebagai istrinya. Umar, yang mendapati gelar Al Faruq karena keberanian serta kelantangannya memperjuangkan islam. Bahkan, saat hendak hijrah ke Madinah ia menantang siapa saja yang menghalangi, namun penduduk mekkah yang tidak beriman enggan.

            Ali kembali mencoba untuk berdamai dengan hati, rivalnya kali ini juga sahabat mulia Rasulallah, bahkan syaitan lari terbirit-birit saat melihatnya.  “Umar lebih baik dariku” imbuhnya.

 Ali pasrah, rasanya ia harus  memupus impian untuk menikahi putri Rasulallah teman kecilnya.

            Namun Allah punya rencana lain, Umar bin Khattab ditolak oleh Rasulallah. Ali yang mendengar kabar ini kembali dibuat bingung. Siapa sebenarnya yang di ingini Rasulallah untuk menjadi menantunya. Abu Bakar yang mulia telah datang namun tidak diterima, Umar yang hebat ditolak. Pemuda seperti apa yang pantas untuk mendampingi Fatimah jika meraka saja gugur.
Kali ini Ali memberanikan diri, meski kemungkinan untuk diterima kecil setidaknya ia telah mencoba untuk memperjuangkan cintanya. Dari hadist riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamarannya. 

"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

Rasulallah terdiam, tak lama memberikan jawaban.

"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah pada Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!"

Demikianlah kisah yang memberikan pelajaran tentang cinta, bahwa sesungguhnya cinta adalah pemantasan serta perjuangan. Ketika tidak bersiap, maka luaskan hati untuk menerima. Saat sudah siap, apalagi yang ditunggu?



Bagikan

Tulisan Lainnya

Karena Cinta adalah Kesiapan
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.