Jumat, 14 November 2014

Karena engkau, Bidadari.


       
     Ingin ku katakan betapa berharganya engkau, wanita. Dengan mu, semua yang terlihat berantakan menjadi rapih. Dengan mu, semua yang kau kerjakan menjadi indah di pandang mata, dan dengan mu, anak-anak tumbuh menjadi seorang yang luar biasa. Begitu berharganya engkau sehingga menjadi sandaran dari sebuah negara. Begitu istimewanya engkau sehingga surga ada di telapak kaki mu. Maha Suci Allah yang telah menciptakan mu.

           Engkau begitu berharga, bukan berarti kau bisa di beli dengan uang. Engaku begitu berharga, bukan berarti kau bisa di tawar seperti barang ‘bekas’ dan engkau begitu berharga bukan berarti bisa terbayarkan dengan banyaknya harta. Wanita, engkau sungguh tak ternilai dengan rupiah, apa lagi permata nan indah. Engkau lebih dari itu.

            Bukan sembarang orang yang bisa menyentuh mu dan memiliki mu. Bukan sembarang lelaki yang bisa membawa mu dan menjadikan mu istrinya. Dan bukan lelaki namanya jika ia memacari diri mu. Kenapa? Karena engkau bukan tempat untuk ‘praktek’ engkau juga bukan tempat untuk orang-orang yang tidak mempunyai komitmen. Ingat, engkau begitu berharga dan tak ternilai. Jangan sampai kau tertipu hanya karena rayuan lelaki ‘mupeng’ (baca: muka pengen).

            Mungkin kertas putih ini tak kan mampu menggambarkan keindahan mu, mungkin tinta ini tak kan cukup untuk melukiskan eloknya paras mu. Ya, karena memang engkau begitu tak ternilai.

            Setelah ku memuji mu, ‘mengangkat’ mu hingga melambung jauh. Sadarkah bahwa engkau memang begitu berharga, indah bak permata jeli nan putih. Terbesitkah di hatimu “ya.. aku memang berharga dan tak ternilai” lalu kenapa engkau ‘murahkan’ diri dengan membuka aurat?

            Wanita, saat engkau membuka aurat mu, itu sama saja engkau telah rela dan ridha keindahan mu di lihat oleh orang banyak. Bukankah aku sudah bilang, engkau begitu berharga dan tak ternilai. Dan mengapa kini kau biarkan ribuan pasang mata melihat keindahan mu dengan gratis?
Biar ku tebak, apakah engkau ingin di bilang cantik dan seksi?
Biar ku terka, apakah engkau ingin di panggil manis dan di perebutkan oleh banyak lelaki?

            Lalu, apa bedanya engkau dengan sebuah ‘barang’ yang dapat dibeli? Bukankah aku telah mengingatkan, engkau tak terbayarkan dengan banyaknya harta dan se isi dunia. Karena engkau indah dan tak ternilai harganya.

            Sayang... biarkan keindahan mu itu hanya di lihat oleh orang yang telah menjadi suami untuk mu, lelaki yang bertanggung jawab serta yang akan menuntun mu ke arah syurga. Maukan? J

            Hm.. ingat pesan ku ini ya;
Kecantikan itu ada bersama kelembutan dan juga akhlak yang baik. Jadi engkau tak perlu susah dan repot merias wajah mu itu agar dibilang cantik.

            Satu lagi. Aku menuliskan ini karena perduli dan sayang pada mu, bukan berarti ‘sok alim’ atau pun kepengen di bilang ustadz, bukan ya.... J

            Ya... itu semua karena Engkau, Bidadari. Maka tak pantas rasanya jika bidadari itu mengumbar aurat, menjual cinta dan mudah untuk di bodohi ama lelaki mupeng.

Sampai sini dulu ya.. nanti kita lanjut lagi. J
Barrakallah... saudari ku.


Lope u pull .... 

Bagikan

Tulisan Lainnya

Karena engkau, Bidadari.
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.