Kamis, 22 Oktober 2015

Memupuk asa Bersamamu

Memupuk asa Bersamamu

Dulu sekali, aku hanya pemuda yang tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Masa bodo dengan peraturan-peraturan yang menurutku terlalu mengekang gerak dan langkah kaki ini untuk menikmati dunia. Aku pemuda, yang sedang tumbuh kembang menjadi dewasa, jadi biarkanlah saya mengekplorasi diri sendiri dengan teman-teman.

            Ha... tapi itu dulu sekali. Saat sesosok ‘kakak’ –ah, bukan hanya kakak—ia lebih dari itu, merangkul dan mengajak bersama untuk mengkaji islam. Sampai akhirnya, kamu membaca tulisan ini. Dari dirinya, aku belajar banyak hal tentang Islam, kehidupan yang penuh perjuangan, impian yang mesti diraih dan usaha yang tiada pernah henti. Kadang, ia berubah menjadi sosok seperti Ayah, mengarahkanku untuk tak salah arah, menasehatiku dengan penuh harap; “kamu harus menjadi yang terbaik.”

            Banyak sekali yang ia perbuat padaku, sampa-sampai, mungkin aku belum bisa membalas budi baiknya selama ini, untuk sekarang ini.

            Ha... Kak, memupuk asa bersamamu pernah kulakukan. Kita sempat memiliki impian yang sama untuk membangun rumah makan. Bukan sekedar rumah makan, tapi Restoran dengan nama Bang Ahyan, yang kelak, Insya Allah akan berkembang pesat dijakarta.  Itu target kita.

            Tapi sepertinya... impian itu ‘harus’ karam dijakarta. Tersebab aku yang mungkin plin-plan dalam mengambil keputusan. Engkau pasti marah, benci dan mungkin tidak ingin melihatku lagi. Iya, aku faham dan mengerti. Aku memang layak menerima semua itu darimu, Kak. Tak apa.

            Tapi, Kak. Tulisan ini bukan untuk memutar memori masa lalu. Namun, untuk menoreh impian kita dimasa depan. Pun, tulisan ‘riweuh’ ini adalah permintaan maafku padamu. Hampir dua tahun, Kak, kita melajukan impian bersama tapi... ah, aku saja yang mungkin bodoh tidak mau melanjutkannya. Iya, bodoh karena tidak menggunakan kesempatan dengan baik.

            Kak, harapnya. Tulisan yang mungkin naif ini, menjadi tanda maaf dariku yang banyak mengecewakanmu. Dan, mungkin pabila tali-tali persaudaraan itu mulai kendur, dapat kencang kembali dengan tulisan sederhana ini.

Saya meminta maaf, sungguh, kepada kak Catur Ramadhani dan juga keluarga, apabila selama ini selalu merepotkan. dan terkadang membuat kesal

Maafin saya kak. 

Doa saya, semoga lebih sukses lagi dikota baru yang sedang dituju. Aamiin.

MARKISA! 


Dari adikmu, yang gemar menulis.

Bagikan

Tulisan Lainnya

Memupuk asa Bersamamu
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.