Selasa, 16 Agustus 2016

Filosofi Batu

Belajar dari Imam Ibnu Hajar Asqalani


           Alkisah diceritakan, seorang anak remaja yang menuntut ilmu disebuah madrasah, ia sangat rajin. Tapi, meskipun begitu, ia di ejek oleh teman-temannya dengan sebutan bodoh karena tidak naik kelas dan sering sekali lupa dengan pelajaran-pelajaran disekolah. Inilah yang membuatnya patah semangat, tidak ingin melanjutkan pendidikannya di madrasah, sampai akhirnya setelah merenung dan memikirkan, ia memutuskan untuk pulang dan berhenti belajar.

Ia pun pergi, tanpa pamit dengan guru-gurunya terlebih dahulu.

          Di perjalanan saat ia pulang, hujan turun cukup lebat hingga ia memutuskan untuk berteduh. Disanalah, ditempat ia berteduh, ia melihat sebuah batu besar yang tertetes air hujan hingga melubang. Remaja itu melihatnya dengan penuh perhatian. Ia seperti mendapat pelajaran berharga.

“Batu yang demikian keras bisa berlubang karena tetesan air hujan yang terus menerus” katanya, “kalau begitu, kebodohanku juga akan musnah jika terus menerus terkena tetesan ilmu. Aku tidak boleh menyerah,” gumamnya dengan penuh semangat.

          Ia tidak jadi pulang, ia memutuskan untuk kembali ke madrasah. Ia semakin giat belajar, digunakan waktunya dengan penuh optimal, tidak dibuangnya kesempatan untuk terus menimba ilmu. Kelak, dikemudian hari ia menjadi ulama besar, seorang ahli hadist terkemuka serta pengarang kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari yang dipelajari oleh umat islam diseluruh dunia sampai sekarang.

Remaja itu, tidak lain adalah Ibnu Hajar Asqalani. Teman-teman sebayanya memberikan julukan “Ibnu Hajar” (Putra Batu) karena ia mengambil pelajaran dari filosofi batu.

***
            Dari kisah yang telah dituturkan, kita bisa mengambil banyak pelajaran tentang kesungguhan. Air yang terus menetes akan mampu melubangi hingga menghancurkan batu. Begitu juga dengan kita yang tidak pernah berhenti mencoba , terus berusaha dan pantang menyerah pasti akan berhasil. Tapi tentu ada proses yang harus kita lewati terlebih dahulu, karena proses yang menempa kita untuk siap.

Setelah mencoba serta melewati proses, kita bisa saja tidak berhasil. Disinilah kita membutuhkan kesabaran untuk terus mencoba, berjuang dan mengoptimalkan seluruh daya untuk kembali memulai apa yang telah dijalani. Dan bisa jadi ketika memulai yang kedua kita gagal kembali, tapi tentu sabar menikmati proses, seperti kekata orang bijak adalah awal dari kesuksesan.

            Pun sebetulnya, kita tidak pernah benar-benar gagal. Yang ada adalah kita mendapatkan pelajaran untuk terus mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk menggapai keberhasilan.

Terakhir, kesungguhan  dan kesabaran, persis seperti dua 'sayap' yang mampu membawa kita pada kesuksesan.

“Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh” A. Fuadi


Bagikan

Tulisan Lainnya

Filosofi Batu
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.