Rabu, 30 November 2016

Bukan untuk Bermain



Anak-anak separuh baya berlari kecil, saling mengejar sembari tertawa nan gembira. Namun ada satu diantara mereka, ia merenung, berfikir bahwasannya untuk apa ia di ciptakan.

Tetiba, teman-teman seusianya menghampiri mengajak untuk bermain.

“Hey, yuk kita main!” 
“Tidak, bukan untuk bermain aku diciptakan.”

Begitulah kiranya, dialog singkat yang terjadi antara mereka. Jawaban itu keluar dari seorang anak yang belum baligh.

Namun jawabannya telah melampuai usianya.

Ialah Nabi Yahya Alaihisalam kecil, yang telah melontarkan jawaban tersebut, yang bila kita renungkan memiliki makna cukup dalam tentang hakikat hidup ini.

Dunia ini, amat sesak. Kita dikukung dengan berbagai kesenangan berbalut sengsara. Di kepung praktik penyimpangan yang membawa kita jauh dari kebenaran. Maka kita mengetahui bahwa sebenarnya hidup di dunia ini hanya sementara dan akan dimintakan pertanggung jawaybannya.

Sebagaimana banyak perkataan ulama yang mengatakan:

"Dunia ini adalah permainan (penuh tipu daya)”

maka kiranya, kita perlu menasehati diri agar kembali mengingat; bahwa bukan untuk main-main kita diciptakan. Sebab akan ada tanya yang mesti di jawab, amanah yang harus ditunaikan dan perbuatan yang dipertanggung jawabkan.



Bagikan

Tulisan Lainnya

Bukan untuk Bermain
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.