Senin, 26 Desember 2016

Baca dulu Menulis Kemudian


Membaca adalah aktifitas yang sangat menyenangkan, karenanya kita mendapatkan banyak ilmu yang mungkin tidak kita dapatkan di sekolah ataupun kampus tempat kita belajar. Sering, ilmu-ilmu yang tersimpan rapi dalam setiap lembarannya menghibur kesendirian, membahagiakan fikiran serta melapangkan wawasan.

Membaca juga merupakan aktifitas yang tidak bisa dilepaskan dari kemajuan, sebab peradaban-peradaban dunia atau bahkan munculnya orang-orang cerdas, ilmuwan-ilmuwan, professor dan lain semisalnya ada karena kesibukannya dalam membaca. Bisa dikatakan jika ingin kehidupan seseorang itu maju ia harus banyak-banyak membaca.

Sangat pentingnya membaca hingga Allah mengabadikannya dalam Al quran, kejadian ini terjadi saat Nabi Muhammad berada di gua Hira, tempat pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu. Malaikat jibril dengan tugas menyampaikan wahyu menyeru kepadanya untuk membaca; “Iqra ya Muhammad.”

 Tidak bisa kita pungkiri, seseorang yang gemar membaca ia akan lebih dulu berada di puncak kejayaan. Alasan yang paling logis adalah ia telah banyak membaca. Ia lebih dulu mengetahui sebelum dirimu karena aktifitas membacanya.

            Begitupun seseorang yang ingin tulisannya; keren, mengalir seperti air, mengena dihati pembaca, nyangkut  difikiran seseorang, berisi, harus didahului dengan banyak membaca.

Tuan tahu, kenapa tulisan bang Darwis Tere Liye, Habiburahman El Shirazy, Bunda Asma Nadia, Dee, ngalir dan dan enak dibaca? cukup mudah, karena mereka telah banyak melahap buku-buku.

            Pun, Krashen (seorang peneliti Bahasa) menyampaikan bahwa tulisan yang baik hanya dapat dilahirkan dari orang yang banyak membaca. Kita ingat nasihatnya dengan baik;

“Writing style does not come from writing, but from reading”

Lalu bagaimana dengan banyak menulis, apa ia akan membuat baik atau mutu suatu tulisan?

Kita ikat nasihatnya baik-baik.

“Writing quantity is not related to writing quality”

Dilain sisi, Stephen King yang ahli dalam menulis novel-fiksi horror, menuliskan perkataan yang hampir sama dalam bukunya yang berjudul On Writing; A Memoir of the Craft. Hal ini memberikan kesadaran bagi pegiat aksara atau untuk kita yang sedang belajar menulis, jika ingin tulisan yang ditulis mengalir, bermutu serta enak dibaca maka wajib hukumnya banyak-banyak membaca.

          Pun membaca adalah kaitan dari menulis yang tidak bisa dipisahkan, sebab darisanalah kita dapat memahami, belajar, dan mengetahui. Yang nantinya dari aktifitas membaca tersebut kita dapat menyampaikan gagasan yang kita inginkan melalui tulisan dengan sangat baik.
Maka dari sini boleh kita  simpulkan; Baca dulu Menulis kemudian. Yeaay!


Semangat Menulis. 

Bagikan

Tulisan Lainnya

Baca dulu Menulis Kemudian
4/ 5
Oleh

Tinggalkan kesan.